Showing posts with label PERPIPAAN. Show all posts
Showing posts with label PERPIPAAN. Show all posts

Thursday, 14 February 2013

Parameter – Parameter Design Perpipaan


Parameter – Parameter  Design Perpipaan 

Dalam design sistem pipa maka yang terpenting , yang harus diperhatikan adalah  tentang masalah safety / nilai keamanan dari sistem pipa yang telah dirancang dan telah di pasang pada  struktur bangunan laut dan kapal . Maka dari itu dalam merancang sistem pipa ini , harus  dilakukan beberapa seleksi  dan  evaluasi dengan hati – hati dalam merancang sistem pipa tersebut . Maka  biasanya parameter yang digunakan  dalam design pipa adalah :

1.            Line Sizing
2.      Route Selection
3.      Soil Movement  Analysis
4.      Pipe Prospection Methods
5.      Pipe Buckling  Analysis.
6.      Vortex Sheedding
7.      Material

 1.1   Line Sizing
Langkah pertama , dalam mendesign sistem pipa maka harus memenuhi parameter yang pertama yaitu tentang , bagaimana kita harus menentukan  ukuran yang cocok dengan kebutuhan dari  pemasangan pipa tersebut , yang harus ditentukan adalah panjang, ketebalan pipa. Dalam penentuan ukuran ini yang harus di perhatikan adalah tentang  fungsi dari pemasangan pipa inin , sehingga kita juga harus memperhatikan tentang masalah  kapasitas dari pipa ini. Untuk ukuran bermacam – macam dari pipa kita dapat melihat pada katalog tentang standarisasi pipa Ini.

1.2    Route Selection
Dalam pemilihan Route dari sistem pipa ini , harus mengacu pada beberapa aturan  Tertentu, Pemilihan route ini bertujuan untuk ;

a.             Menghindari daerah  pipa yang sudah ada
b.            Menghindari Crossing
c.             Menghindari  daerah anchoring
d.            Menghindari  daerah aliran lumpur
e.             Meminimize panjang pipa  dan memilih route pipa pada daerah yang stabil.

1.3    Soil Movement Analysis
Dalam  mendesain sistem pipa maka juga harus di perhatikan tentang pergerakan tanah yang terjadi di sekitar  di pasangnya pipa ini. Jadi dalam pemasangan / instalansi pipa ini , pipa harus benar – benar berada pada  daerah yang stabil ( tidak mudah terjadi pergeseran ) Sehingga pipa ini nantinya tidak akan mengalami gangguan dalam  operasinya/ kegiatan produksinya.

1.4    Pipe Prospection Methods
Dalam mendesain sebuah  pipa , maka  sistem pipa tersebut harus mengacu pada salah satu metode . Metode – metode yang diguanakan adalah sebagai berikut :
a.             Tow Methods
b.            Bottom Pull Methods
c.             Reel barge methods
d.            Lay Barge Installation Methods

1.5    Pipe Buckling  Analysis
Kita tahu bahwa untuk memasang pipa ini di dasar laut maka  kita harus memperhatikan  kedalaman airnya. Kegagalan yang sering terjadi pada pipa adalah di karenakan  oleh :
~   Diameter pipa  dan ketebalan pipa
~   Terjadinya regangan
~   Tekanan hidrostatik.
Pada Design pipa , kita harus memeperhatikan tentang terjadinya “ BUKLING “ pada pipa . Untuk menghitung terjadinya bukling pada pipa , ada 2 macam yaitu :

a.             Local Buckiling
         Untuk menghitung local bukling , kita dapat menggunakan  persamaan beikut ini ;
                         Pc   =  2E / ( 1 – v2 ) t /D ( t / (D – t))2

                           Dimana :
Pc     = Tekanan , Psi
E       =  Modulus Elastis, Psi
V      =  Poisson
D      =  Diameter
T       =  Ketebalan

b.            Bukle Propagation
Untuk menghitung besarnya bukling diatas maka dapat menggunakan  persamaan berikut ini :
Pp  = 6 Y ( 2t / D )  2.5    , untuk Battele


1.6     Vortex Shedding
Pengertian dari votex / pusaran adalah arus yang  memilikikecepatan yang tidak sama tetapi tiap titiknya akan berbeda. Penyebab dari vortex shedding adalah danya aliran turbulen dan terjadi ketidakstabilan di dekat pipa.Selain itu juga disebabkan oleh  getaran di sekitar bentuk pipa dan perubahan yang secara periodik  pada tekanan hidrodinamkia pada pipa.. Sedangkan aliran pada p[ipa tergantung pada  diameter pipa dan kecepatan pipa.. Kegagalan yang terjadi pada pipa  dapat di sebabkan oleh pusaran , dan terjadinya pusaran ini dapat  dicegah dengan  menjauhkan  frekuensi alami pada pipa  dari bentuk pipa. Di bawah ini adalah persamaan untuk menghitung frekuensi pada vortex shedding, yaitu :

Fs   =   S.V / D
  
Dimana :
Fs   =  Frekuensi pada voertex Shedding
S     = Anka Strouhal
V   =  Kecepatan , ft / sec
D   =  Diameter pipa, ft.

Persyaratan Umum Untuk Sistem Pipa Pada Struktur Bangunan Laut & kapal


Persyaratan Umum Untuk Sistem Pipa Pada Struktur Bangunan Laut & kapal

             Persyaratan yang harus dipenuhi  dari sistem pipa  pada  Struktur bangunan laut dan kapal adalah  sebagai berikut ;

1.      Semua sistempipa harus dilengkapi dengan tumpuan – tumpuan , tidak boleh menganggu  termal expansion dari pipa – pipa untuk mencegah pergeseran dan sagging / lenturan  dari pipa.
2.      Semua sistem pipa harus di lengkapi dengan alat – alat untuk mengurangi tekanan yang diakibatkan oleh termal expantion .
3.      Pada tempat – tempat di mana pipa  - pipa kedap air, pipa – pipa dari seluruh sistem diatas kapal harus  dilekatkan pada dinding kedap tersebut, dengan flens yang di las .
4.      Biasanya pipa tidak boleh melewati  tangki bahan bakar minyak, namun jika tidak dapat di hindarkan , sebuah terowongan  harus  di sediakan dengan syarat – syarat pipa  ini harus di test  dengan tekanan hidrolis setiap 2 tahun penggunaan.
5.      Hubungan pipa – pipa dengan lambung, gate valve  dan katup – katup lainnya  untuk bermacam – macam tujuan harus direncanakan  sedemikian rupa sehingga  tidak terjadi perembesan air laut ke dlam kapal dan sedapat  mungkin harus dipasang diatas pelantaian  dari ruang mesin  dan ruang ketel.
6.      Hubungan pipa – pipa dengan lambung yang terdapat dibawah garis air muatan dam memiliki handle yang dapat dilepas , harus di buat sedemikian  sehingga  handle itu dapat di lepas  bilaman akatup tersebut tertutup.
7.      Semua alat –alat pemutus hubungan harus dibuat sedemikian , sehingga   orang dapat  melihat apakah  terbuka atau tertutup.
8.      Pipa – pipa  dan peralatan tidak boleh dilekatkan pada bulkhead kedap minyak tetapi ini boleh dilakukan sebelum tangki itu di test.
9.      Semua saluran keluar nya kotoran sedapat mungkin di pasang pada bagian port / kiri. Tidak dianjurkan  untuk memasang   saluran masuk pompa pada samping yang sama dengan bagian tadi.
10.  Lubang – lubang saluran keluar harus dibelakang  saluran masuk air laut sepanjang kapal.
11.  Semua lubang  saluran masuk di samping kapal , harus ditutup dengan sebuah  saringan  atau kisi – kisi  untuk mencegah  masuknya kotoran  dan akan menyumbat   saluran – saluran dari bottom valves.
12.  Perlengkapan – perlengkapan saluran masuk pada bagian bawah  kapal  harus di lengkapi dengan sistem  blow off / penghembusan  uap air  atau udara yang mempunyai  tekanan tidak melampaui  3 kg / cm . semua peralatan dan lubang saluran keluar yang mungkin dpat terjadi pembekuan harus dilengkapi  dengan sistempemanas uap air.

Perhitungan Tebal Dari Pipa


Perhitungan Tebal Dari  Pipa.


Ketebalan dari pipa pada  struktur bangunan laut dan kapal , itu tergantung pada  cara kerja dari sistem tersebut . Biasanya  pipa tersebut  dibuat menurut ukuran standart , sehingga apabila jika  terjadi penyimpangan  dari ukuran standart , akan menambah  biaya extra.  Semua jenis pipa , harus direncanakan , tidak hanya untuk menahan  tekanan kerja bagian dalam , tetapi  juga untuk melindungi  terhadap kerusakan – kerusakan  dari luar karena   letak dari pipa ini adlah dari dalam struktur bangunan laut dan dari kapal itu sendiri.
Sebagai petunjuk  di dalam menentukan  ketebalan pipa , Maka harus memenuhi  syarat – syarat dari American Bureau Of Shipping  menyatakan ;
~  Tekanan  kerja maximum  dan tebal minimum  harus dihitung  dengan persamaan berikut, dimana  perlu juga diperhatikan tentang terjadinya pengurangan  ketebalan pipa pada radius  luar  dari pipa   ~
~    Persamaan menghitung ketebalan pipa adalah sebagai berikut ;

 W   =    2S/D  ( t – C )

T     =    W.D/S +   C


Dimana :
W =   Tekanan kerja maximum yang di perbolehkan ( psi ).
T  =    Tebal pipa dalam inchi
D  =    Diameter luar pipa, dalam inchi.
C  =    Dalamnya ulir h untuk  semua pipa yang berulir 1 /2 inchi dan lebih besar.
Ukuran – ukuran dari pipa ini harus mengacu pada aturan dari American  Standart Association . Didalam keadaan yang khusus , ukuran – ukuran dan ketebalan  - ketebalan yang di peroleh , Tetapi sebaiknya ukuran – ukuran  standart  harus selalu  dipergunakan dalam pertimbangan  ekonomis dan juga kecepatan didalam pengiriman.

Bahan Pipa


Bahan  Pipa

Dalam pemilihan bahan yang paling cocok untuk sistem pipa  , yang harus diperhatikan adalah tentang ;
~  Kekuatan / Strength
~   Tahanan  Pipa terhadap Korosi.
Bahan yang biasanya dipakai  dalam design pipa adalah ;
1.      Seamless drawn steel pipe / pipa baja tanpa sambungan .
       Dengan ciri – cirinya sebagai berikut ;
a.             Dipakai untuk pipa  tekan  pada sistem bahan bakar.
b.            Injeksi bahan bakar dari motor pembakaran dalam.
c.             Terbuat dari  bahan baja atau dari kuningan.
2.      Lap welded / electric resistance welded stell pipe.
       Dengan ciri – cirinya  sebagai  berikut :
a.             Dipakai pada tekanan  kerja < 350 psi dan suhu < 450 ° F.
b.            Bahan  daripipa terbuat dari timah hitam  yang biasanya  pipa jenis ini di gunkan untuk  saluran suply air laut dan saluran pipa sistem bilga.

Semua pipa – pipa bahan bakar  dan pipa lainnya yang melalui tangki minyak harus dibuat dari baja  tempa dan besi tempa.

Pembagian Golongan pipaan


Pembagian Golongan Perpipaan

Dalam masalah perencanaan  dan juga tentang konstruksi  sistem pipa pada struktur bangunan laut dan kapal .Maka penggolongan jenis pipa yang digunakan  dalam design pipa adalah dapat dibagi menjadi 2 golongan  , Yaitu ;





1.      Golongan 1

Yang termasuk dalam  dalam pipa golongan 1 adlah semua jenis pipa yang  memiliki tekanan dan temperatur yang bermacam – macam , tergantung pada kerjanya , yaitu :

a.                  Uap air dan udara diatas 150 psi atau diatas 370 ° F.

b.         Air diatas 150 psi atau diatas 200 °F.

c.          Minyak diatas 150 psi atau diatas 150 ° F.

d.                  Serta gas dan cairan yang beracun pada semua tekanan dan        temperatur.

2.    Golongan II

Yang termasuk dalam golongan 2 adalh semua jenis pipa , dengan tekanan kerja dan temperatur di bawah tekanankerja dan temperatur yang dicantumkan  dalam golongan I.

Perancangan Sistem Perpipaan


Perancangan Sistem Perpipaan 

Dalam mendesain sistem pipa pada struktur bangunan lat dan kapal . maka hal terpenting yang harus diperhatikan adalah tentang beberapa parameter – parameter tertentu . Parameter / kriteria  ini  harus diperhatikan . Karena sistem perpipaan ini mempunyai faktor yang sangat penting  dari  sederatan proses dari operasi pengeboran minyak di lepas pantai. Dengan berpedoman pada parameter tersebu maka akan diharapkan  sistem keamaanan / safety  dari operasi sistem bangunan laut dan kapal  itu akan sangat bergantung sekali pada susunan pipa dan beberpa peralatan lain.
Kita tahu bahwa operasi dari  bangunan lepas pantai ini sangat bergantung pada kerja  dari mesin utama dan kerja drai mesin bantu, efisiensi dari mesin ini akan berkurang fungsinya apabila  tidak dilengkapi  dengan  sistem perpipaan . sistem perpipaan ini  berguna untuk membawa  tenaga  dalam bentuk  uap air  keketel uap . Selain itu fungsi dari pipa ini adalah untuk  memindahkan  hasil kerja  dari pompa  - pompa ke tempat  - tempat yang memerlukan  baik dalam bentuk pengisapan  atau pengeluaran . kriteria – kriteria yangharus dipenuhi dalam pendesainan sebuah sistem  pipa pada struktur bangunan laut dan kapal adalah ;
1.                  Pembagian  Golongan pipa
2.                  Bahan dari pipa.
3.                  Katup dan peralatan  ( Flens )
4.                  Pressure Drop
5.                  Perhitungan tebal pipa.

Sistem Perpipaan Produksi Minyak dan Gas, Fase pengidentifikasian daerah yang mengandung minyak ( Hidrokarbon ), Fase Eksploirasi, Fase pembangunan.


Sistem Perpipaan Produksi Minyak dan Gas


Pipa – pipa dalam offshore untuk saat ini sudah amat berperan dalam dunia industri dan  dalam dunia usaha. Sehingga perkembangan dari pemanfaatan kekayaan alam yang adapun akan  semakin berkembang seiring dengan adanya teknologi kelautan yang semakin maju dan semakin canggihnya. Sistem perpipaan ini amat berperan dalam bidang Offshore , karena berkaitan dengan kegiatan produksi  yaitu proses pengeboran minyak gan gas bumi di dasr laut . dalam proses pengeboran  atau dalam kegiatan eksploitasinya, hidrokarbon ini pada dasarnya dibagi menjadi 4 fase , Yaitu  :
1.                                                                              Mengidentifikasi daerah yang mengandung minyak /hidrokarbon.
2.                                                                              Fase  eksploirasi.
3.                                                                              Fase pembangunan
4.                                                                              Fase produksi dan transportasi.

  Fase pengidentifikasian daerah yang mengandung minyak ( Hidrokarbon )
      Pada fase ini adalah berkaitan dengan struktur geologi daerah  yang  mengandung  potential hidrokarbon. Dan biasanya fase ini  didasarkan pada proses evaluasi dari bidang  geologi . Data – data yang mendukung dalam bidang geologi , harus mengacu pada data – data yang tepat  yaitu terutama  tentang data – data bidang geofisika  daqn daqta seismik pada daerah tersebut. Sehingga dapat diketahui bahwa daerah tersebut mengandung   hidrokarbon     /minyak.

 Fase  Eksploirasi       
Langkah selanjutnya setelah ditemukan wilayah yang mengandung  hidrokarbon / minyak maka langkah selanjutnya  adalah operasi tentang eksploirasi  . Pertama – tama adalah diadakan survey  bidang geologi  dan geoteknik pada daerah yang akhirnya  pada daerah tersebut akan  ditemukan kandungan minyaknya. Setelah itu  akan segera dilakukan eksploirasi  / pengeboran  pada daerah yang mengandung hidrokarbon tersebut . Pada fase ini sangat berkaitan dengan berbagai  macam tipe Drilling rig. Dalam pemilihan drilling  Rig – nya  maka yang harus diperhatikan adalah tentang kedalaman airnya , dimana minyak dan gas  tersebut berada . Misalnya  : jack Up , digunakan pada kedalaman air yang tidak terlalu dalam . selain itu bangunan lain yang digunkan adalah adalah semi submersible , kapal pengebor minyak ( tanker ) dll.
Setelah proses pemasangan / instalansi pada bangunan lepas pantai / bangunan pengebor minyak , maka langkah selanjutnya adalah peletakan pipa didasar laut. Setelah itu  adalah pemasangan Blow – out ( alat  pengaman yang dipasang pada daerah yang yang sedikit sekali terjadi resiko  untuk terjadinya blow out, hal ini untuk menghindari terjadinya peledakan dan kebakaran di daerah sekitarnya.). karena kita tahu pada daerah sekitar pengeboran tersebut akan sangat rawan sekali terhadap kebakaran.

Fase pembangunan
Setelah semua informasi yang berkaitan tentang geologi dan geoteknik  pada daerah  yang mengandung  hidrokarbon / minyak itu dianalisa . analisa tersebut berkaitan dengan  teknik dan nilai ekonomis  maka pada daerah yang mengandung minyaknya maka akan segera dilakukan pembangunan  dan proses produksi  dari minyak tersebut akan segera dilakukan / dimulai.. Pada proses pembangunan , juga harus diperhatiakn tentang berbagai variasi  alternatif tentang berbagai  struktur bangunan laut yang akan digunakan untuk mengebor minyak tersebut. Berbagai alternatif  tersebut adalah struktur bangunan laut yang terpancang / fixed  untuk mengebor  dan untuk operasi produksi minyak. Berbagai fasilitas yang digunakan pada  proses produksi  adalah untuk permukaan dan dasar laut . Sedangkan untuk  sistem produksi di permukaan laut  adalah terdiri dari struktur yang terpancang / fixed structure  , yang dilengkapi dengan  peralatan pengeboran  dan peralata produksi . Kemudian untuk pemyaluran hasil dari proses produksi ini  yaitu berupa gas dan  minyak akan dialirkan  dari dasar laut sampai ke  atas decknya  yaitu melalui pipa –pipa.

PERPIPAAN OFFSHORE


PERPIPAAN OFFSHORE


                           Dengan semakin berkembangnya industri gas dan minyak  sekarang ini , telah menghasilkan perkembangan subtansi pada proyek offshore ( Pengeboran minyak lepas pantai ) . Untuk menemukan dan memproduksi hidrokarbon. Dengan semakin berkembangnya  dan majunya teknologi yang ada maka peralatan yang berkaitan dengan offshorepun akan semakin  canggih dan semakin modern. Perkembangan pipa offshore , pertama kali berada di Gulf , Mexico.Telah  banyak  sistem perpipaan  yang telah dirancang di berbagai dunia . Dengan berbagai macam design yang beragam.  Negara – negara yang  mengikuti perkembangan  di bidang offshore  yaitu : amerika serikat , laut utara ,Gulf  Mexico, Mediterania Australia Asia  dan Amerika latin. Ada beberapa pipa yang dipasang pada kedalaman air ± 2.000 ft. Pipa ini mempunyai lebar  56 inci. Berbagai macam variasi peralatan yang telah dibuat  dan telah dirancang  ( mengikuti perkembagan dari offshore ) . Yaitu peralatan yang digunakan untuk untuk proses pemasangan / instalasi maupun peralatan yang digunakan untuk membuat  pipa itu sendiri. Dalam proses pembuatan pipa itu sendiri juga  harus menggunakan metode tertentu . Metode – metode yang digunakan adalah Conventional Lay Barge Method, Reel Barge Method, Various Pull dan tow  Methods.
                Perancangan dari sistem perpipaan di Offshore ini juga tergantung pada kedalaman dari air laut itu sendiri. . Pada saat  kegiatan perancangan dan pemasangan pipa ini juga harus memperhatikan beberapa hal . Yaitu diantaranya adalah terjadinya Stress / tarikan dan bending., yang sering terjadi pada  permukaan  mesin yang tertanam pada dasar laut dan dipengaruhi oleh  gelombang  dan berbagai kondisi variasi dinamik. Setelah  pipa ini dipasang dan diletakkan  di dasar laut , akan mendapatkan beberapa resiko yang akan menimbulkan kerusakan akibat gelombang dan arus pada daerah tersebut.
Pada saat kegiatan / proses pendesainan sistem pipa ini , adalah yang terpenting harus diperhatikan adalah harus adanya gaya yang kecil dari pergerakan tanah disekitar pipa tersebut dan menjaganya dari berbagai kerusakan pada pipa itu sendiri. Spesifikasi pipa material  dan spesifikasi gravitasi adalah tersusun  sederhana sehingga pipa tersebut akan memiliki gaya hidrodinamika . Selain itu dalam proses pendesignan pipa ini juga harus memperhatikan analisa dari kondisi pipa yang berada  dibawah yaitu efek tekanan , expansi panas dan beban pada pipa itu sendiri. Jadi disini dapat kita sim pulkan tantang proses pendesignan pipa ini harus memperhatikan berbagai factor yaitu :
~  Gaya yang terjadi pada tanah disekitar  pipa (tanah mengalami       pergerakan)
~   Beban  yang harus ditanggung pipa dalam  kegiatan operasi.
~   Efek Tekanan  yang terjadi disekitar pipa.
~   Terjadinya Expansi Panas disekitar pipa.
~   Temperatur dari pipa ini juga harus diperhatikan, dalam design pipa.
Dan dalam kegiatan pendesignan ini yang juga harus diperhatikan adalah  apabila pipa ini sudah terpasang dalam kedalaman air laut tertentu, Maka yang harus diperhatikan adalah terjadinya Buckling ( Tekuk ). Hal ini sangat penting karena jika pipa  Offshore ini akan mengalami bukling / tekuk maka jika tidak  segera ditanggulangi maka pipa – pipa ini akan mengalami Fatigue ( keretakan ).

LATAR BELAKANG SISTEM PERPIPAAN, PENGERTIAN SISTEM PERPIPAAN


 SISTEM PERPIPAAN

 LATAR BELAKANG SISTEM PERPIPAAN, PENGERTIAN SISTEM PERPIPAAN

         
 Kita tahu bahwa Wilayah  yang ada dibumi ini dibagi 2 yaitu wilayah daratan dan lautan.  Negara Indonesia memiliki  lebih dari 13.000 pulau dengan panjang garis pantai lebih dari 81.000 km . Atau  dapat pula dinyatakan bahwa wilayah Indonesia, wilayah lautannya sekitar 2/3 dari luasannya sedangkan untuk luas daratan adalah sekitar 1/3 dari luasan keseluruhan.

Dari kondisi diatas maka sudah sepantasnya  jika kita berusaha untuk menggali segala potensi di bidang kelautan baik itu dengan cara mengeksploitasi dan eksplorasi dari kekayaan laut. Tetapi juga harus diperhatikan mengenai  eksploirasi , kita juga harus memperhatikan tentang pemanfaatan yang tepat guna dan yang akan memberikan manfaat bagi kesejahteraan seluruh umat manusia .

Dalam pemanfaatan diatas juga harus memperhatikan tentang  penggunaan Ilmu dan Teknologi yaitu dengan semakin berkembangnya teknologi kelautan sekarang ini maka bagaimana kita manusiannya untuk dapat memanfaatkan kekayaan  alam yang ada dengan teknologi kelautan yang semakin maju seiring dengan perkembangan jaman. Maka dari itu dari keadaan diatas  untuk mendorong semakin majunya industri teknologi kelautan . Kita harus memperhatikan tentang  ‘ SISTEM PERPIPAAN ‘  . Yaitu terutama untuk sistem perpipaan  di bidang Offshore Engineering atau dalam  kegiatan pengeboran minyak lepas pantai.

Dalam makalah ini akan dibahas tentang sistem perpipaan pada bangunan laut ( OFFSHORE ). Proses kegiatan pengeboran minyak bumi lepas pantai  ini jelas sekali ada kaitannya dengan  bangunan lepas pantai itu sendiri . Beberapa bangunan lepas pantai yang berguna untuk kegiatan  pengeboran lepas pantai adalah Jacket , Jack Up, Semi Submersible, Tension Leg Platform ( TLP ), Central Gravity Platform ( CGP ), dan beberapa kapal tanker / kapal pengebor minyak. Dari bangunan diatas dapat  kita  klasifikasikan  bahwa bangunan laut itu ada yang terpancang / fixed dan bangunan  lepas pantai yang terapung. Dan dalam mendesign suatu bangunan lepas pantai maka akan sangat berkaitan sekali dengan sistem pipa yang digunakan untuk mengalirkan hasil / produc dari proses pengeboran minyak ini yaitu berupa minyak  dan gas alam lainnya yang berguna. Sistem pipa ini tidak hanya untuk mengalirkan hasil dari pengeboran minyak ini tapi juga berkaitan dengan hal – hal operasional yaitu untuk mengalirkan  sistem air bersih  dan juga untuk kegiatan proses pembuangan limbah  yang tidak berguna dari kegiatan opeasional yaitu proses pengeboran  minyak.

Untuk lebih mengetahui tentang sistem perpipaannya , maka yang harus diperhatikan  adalah tentang macam – macam bangunan lautnya. Pada dasarnya bangunan lepas pantai itu dapat dibagi menjadi 3 yaitu :
1.      Bangunan laut Terapung ( Mobile Offshore Drilling Unit /floating      Production Platform )
Misalnya : Semi Sub mersible, Drilling Ship, Tension Leg Platform dan      Jack up.
2.      Bangunan Laut Terpancang ( Fixed Offshore Platform/ FOP )
         Misalnya : Jacket Tripot, dan Steel Gravity.
3.      Bangunan laut Struktur lentur atau Complaint  Platform
         Misalnya  : Articulated Tower, dan Guyed Tower.
Dari pembagian diatas akan  dibahas tentang  ciri – ciri dari bangunan laut diatas . Yaitu dari 3 pembagian tersebut akan dibahas satu persatu yaitu :
Ciri – ciri dari bangunan laut yang terapung  / Floating.
1.      Diperlukan stabilitas
Misalnya : Tinggi metacenter, Respon static terhadap gaya angin , dan stabilitas kebocoran.
2.      Kekuatan Struktur
Misalnya : Kekuatan ultimat , Serviceability, keadaan batas kelelahan / Fatigue yang akan menyebabkan keretakan / Crack pada sambungan pipa.
3.      Sistem Penambatan / Mooring.
Misalnya : Jangkar , Rantai, dan kabel baja.

Ciri – ciri bangunan laut yang terpancang / FIXED
1.      Diperlukan sistem pondasi yang kuat
2.      Diperlukan kekuatan struktur yang berhubungan dengan kekuatan   ultimate  dan kekuatan keretakan / fatigue.


Ciri – ciri bangunan laut yang lentur
1.      Dibutuhkan kekuatan ultimate
2.      Dibutuhkan  suatu pondasi yang benar – benar kuat.
3.      Dibutuhkan stabilitas pada struktur tersebut.

Selain itu juga dalam offshore engineering , kita juga harus memperhatikan tentang  suatu struktur lain yang juga dapat digunakan un tuk kegiatan pengeboran minyak di lepas pantai yaitu dengan menggunakan  kapal . Dalam kapal juga dibutuhkan susunan dari sistem perpipaan. Biasanya jenis kapal yang digunakan adalah tanker. Dan tentunya dalam kapal ini ruangan atau bagian – bagian dari kapal ini sudah dibagi – bagi sesuai dengan fungsi dan kegunaan dari masing – masing bagiannya. Selain itu juga sangat penting  tentang pengetahuan  mengenai desain atau perancangan bangunan laut dan kapal  harus didasari dan sangat  erat  kaitannya dengan masalah            “ SISTEM PERPIPAAN “                                

Selanjutnya dalam makalah ini akan dibahas tentang  manfaat dan  fungsi  dari pipa. Dalam struktur bangunan laut , yang harus di perhatikan adalah tentang masalah keamanan ( Safety )dan efisiensi dari bangunan laut tersebut . Sedangkan  factor keamanan dan effisiensi ini sangat bergantung pada  susunan dan letak dari sistem pipa. Suatu mesin utama atau mesin bantu akan lebih lengkap dan akan lebih berfungsi  apabila  dilengkapi dengan sistem perpipaan . Sistem perpipaan sangat vital  dan sangat utama dalam masalah perancangan bangunan laut . Karena sistem perpipaan ini berfungsi untuk membawa energi dalam  bentuk uap air dari ketel – ketel uap ke mesin  atau untuk pemindahan energi atau hasil kerja dari pompa ke tempat yang memerlukan dalam bentuk pengisapan atau dalam bentuk pengeluaran.  




Wednesday, 18 April 2012

membuat sebuah P&ID.

Bagaimana membuat sebuah P&ID ?

P&ID (Piping and Instrumentation Diagram) dapat diartikan sebagai sebuah alat bantu untuk menerangkan konsep desain dari suatu proses dan kebutuhan pabrik atau unit produksi yang perlu atau akan dibangun.
Ada beberapa tahapan pembuatan suatu P&ID yang harus dilalui dan dikenal yang dimulai dengan mengenal tahapan proyek yang akan dilakukan dan juga mencakup semua simbol instrument kontrol ataupun piping yang perlu dinotasikan dalam sebuah P&ID.
Tulisan ini dibuat untuk keperluan pengenalan umum pembuatan sebuah P&ID, bukan sebuah guideline yang harus dipenuhi.
1. Pengenalan tahapan proyek dan efeknya terhadap P&ID dan PFD.
Sebuah P&ID harus terus menerus diupdate mulai dari perancangan unit operasi sampai dengan proses komisioning dan start up berjalan. Bahkan tak kadang ditengah-tengah proses operasional (setelah start-up) sudah berjalan, P&ID perlu kembali disempurnakan agar memudahkan pengertian alur proses yang terjadi. Apa itu P&ID dan PFD (Process Flow Diagram), tentunya harus sudah diketahui process engineer sebelumnya, sumber-sumber pengertian perbedaan P&ID dan PFD bisa ditemukan di internet atau pelajaran dasar di bangku kuliah (bila ada) atau saat masuk bekerja di sebuah perusahaan .
Setelah studi-studi kelayakan dan kemungkinan pembangunan suatu proyek selesai, maka biasanya disitu P&ID baru dibuat sementara PFD sudah mulai dibuat sejak studi kelayakan/kemungkinan tersebut dijalankan. Biasanya kemungkinan tahapan perubahan P&ID ada dalam 4 garis besar step-step dibawah ini, tentunya jika AFE (Approved for Engineering) sudah diberikan oleh pemilik proyek sehingga pengerjaan proyek dapat segera dilakukan :
Step 1 : Engineering Stage for Process Package System
P&ID harus mencakup process sistem secara umum yang terlibat baik di offshore dan onshore (jika berbicara Oil & Gas Field disini), kemudian utilities yang berada dalam battery limits dan offsite area, juga pengintegrasian piping dalam unit-unit tersebut dan offsite. Semua input dari dari grup operasional yang telah ada harus dimasukkan dalam P&ID bila P&ID dibuat untuk keperluan modifikasi. Selain itu semua equipment dengan tag number tertentu, special piping, ukuran pipa, spesifikasi pipa, berapa buah pipa yang ada, semua instrumentasi dan kontrol yang sudah ada dan yang perlu dibuat, pengintegrasian intrumentasi dengan panel-panel kontrol dan control room, set pressure dari PSV, control valves dan posisi failurenya, elevasi dari vessel/column atau heat exchanger yang mungkin kritikal, juga termasuk penotasian internal yang kritikal dari vessel/column misalnya, juga semua keperluan minimum menghadapi masa komisioning dan start-up. Pengecekan ulang sebuah P&ID dalam tahap ini dapat dikerjakan oleh desainer proses itu sendiri dan dapat juga dibantu supervisor baik itu senior proses engineer atau lead proses engineer dalam departemen proses.
Step 2 : Mengakomodasi semua input dari departemen seperti dept. Instrument atau klien perusahaan pemilik proyek dll.
• Catatlah semua input untuk dimasukkan ke P&ID seperti ukuran control valve dimana kemungkinannya dapat berubah dari yang sebelumnya sudah dibuat oleh process engineer karena adanya prinsip pengontrolan tertentu yang dikehendaki atau range kontrol yang lebih baik dan diketahui oleh dept. Instrument. Setelah itu bypass valve, isolation valve dsb. di
sekitar control valve dapat dipastikan sehingga penotasian hal ini dalam P&ID dapat diselesaikan.
• Input lain dapat berupa ukuran dan spesifikasi PSV yang lebih detil dari dept. Instrument.
• Semua input dari dept. Instrument berdasarkan standar instrument yang ada atau ketika ada permasalahan lain.
• Selain itu input dari klien setelah studi kemungkinan/kelayakan (feasibility study) terutama bila ada keperluan yang spesial dalam proyek ini sehingga dapat dimasukkan dalam P&ID pada step ini.
• Untuk lebih memastikan, departemen proses dapat meminta bantuan departemen instrumen untuk bantu mengecek sebuah P&ID yang dibuat atau dapat secara pararel memohon bantuan klien juga untuk mengecek draft awal P&ID yang sudah dibuat sampai tahapan ini.
Step 3 : Mengakomodasi input dari semua tim engineering yang terlibat, dari vendor dan keperluan komisioning
Divisi Procurement dan Divisi Engineering kadang-kadang dapat berjalan beriringan, dan kontak dengan departemen proses tetap dibutuhkan, dan dalam fasa ini perubahan-perubahan dalam P&ID tetap diperlukan menjelang komisioning.
• Input dari tim piping sangat diperlukan karena mungkin saja ada beberapa alur piping yang belum diantisipasi dan perlu dibuat spesial dalam P&ID sementara itu tim piping sudah tentu lebih mengantisipasi segala sesuatunya berkaitan piping dalam proyek tersebut. Selain itu input dari tim elektrikal dan mekanikal atau departemen lainnya juga akan sangat membantu penyempurnaan P&ID berkaitan proyek tersebut bahkan mungkin saja divisi instrument punya input yang lebih baru lagi yang akan membuat revisi atau tambahan didalam P&ID tsb., atau biasanya tahapan ini disebut dengan IDC (Internal discipline check) yang mana setiap disiplin yang ikut dalam proyek tersebut diminta inputnya berkaitan dengan penyempurnaan P&ID.
• Setelah menerima dan mengklarifikasi teknikal dan gambar yang dibuat oleh vendor, maka penyempurnaan lebih lanjut diperlukan dalam P&ID dimana mungkin ada beberapa perubahan instrumentasi atau piping dalam suatu skid misalnya yang mana akan mempunyai efek juga pada pengintegrasian unit skid tersebut kedalam bagian lain dari unit operasional yang ternotasi dalam P&ID
• Selain itu pembuatan operating manual, start-up prosedur, dan komisioning prosedur dapat segera dibuat dalam tahapan ini yang mana mungkin diperlukan piping atau instrumentasi yang spesial untuk keperluan start-up dan komisioning yang dapat mungkin saja dinotasikan dalam P&ID. Ada beberapa fasa lain dalam penyempurnaannya sampai komisioning dan start-up bisa dimulai.
Step 4 : As Built P&ID
Setelah proses komisioning dan start-up dimana operasional sehari-hari sudah berjalan, mungkin saja P&ID harus direvisi kembali karena mungkin saja pada saat konstruksi ada beberapa kesulitan yang ditemui sehingga alur perpipaan harus diubah karena keterbatasan struktur sebagai contohnya yang mana sebaiknya dinotasikan juga dalam P&ID. Nah...tahap selanjutnya bisa saja pengecekan kembali As Built P&ID diperlukan sehingga bila ada keperluan proyek lainnya, semua elemen operasional yang ada sudah dinotasikan dalam P&ID sehingga akan memudahkan menjalankan proyek atau modifikasi baru yang diperlukan.
Ada hal penting lain yang harus diingat dalam ini menyangkut persetujuan sebuah P&ID yang dapat dikatakan sudah disetujui dan dapat dipakai sebagai referensi untuk keperluan komisioning, konstruksi atau start-up, menyangkut penandatanganan atau authorized signature. Nah, di awal pembicaraan sudah seharusnya dibuat siapa sajakah yang harus dicantumkan nama/inisialnya sebagai pembuat, sebagai drawing checker, kemudian ada engineering checker, ada project checker dan persetujuan dari pihak klien, berapa orangkah yang perlu dinotasikan disitu sehingga sebuah P&ID bisa disetujui. Mungkin dari pihak pembuat (konsultan) diperlukan nama dan tandatangan pembuat gambar (draftsman), drawing checker (engineer), engineering checker (engineer
supervisor), project checker (project manager) dan authorize checker dari klien mungkin ad dua orang sebagai engineering checker dan project manager.
2. Pengenalan bagaimana membuat penomoran sebuah P&ID atau PFD ?
Sebenarnya banyak macam cara yang dilakukan untuk menomori P&ID tergantung dari kebijaksanaan penomoran yang telah ada di perusahaan tersebut yang bisa juga merupakan kesepakatan antara pemilik proyek dan contractor yang mengerjakan. Contoh : (ilustrasi saja, fiktif lho....)
1. Untuk memudahkan biasanya dibuat berdasarkan area dari unit operasi yang ada disitu, misal Caspian Sea (CS), Delta Mahakam (DM), Sepinggan (SP) dll.
2. Kemudian bisa dilanjutkan dengan membedakan unit operasi itu masuk ke area proses apa, misal uilities plant (UP), atau mungkin Proses Plant (PP).
3. Selanjutnya penomoran dari unit operasi tersebut, misalnya : dalam suatu negara, perusahaan tersebut punya empat buah area operasi utama di provinsi tersebut seperti misalnya kalau di daerah Kaltim ada Balikpapan (1), Samarinda (2), Tenggarong (3), dll.
Jadinya bisa saja karena area tersebut masuk sepanjang delta mahakam dan berada di Samarinda maka bisa saja penomoran lengkap P&ID berupa : DM-PP-2000 s/d 2999.
Setelah itu jika misalnya ada 3 buah separator dalam satu bagan proses maka P&ID dapat dibagi menjadi 3 buah sheet (lembar) yang menunjukkan P&ID ketiga buah separator tersebut secara berlainan dan lebih detil.
3. Pengenalan notasi untuk berbagai equipment penting dalam P&ID
Hal ini diperlukan mengingat beragam jenis equipment yang diperlukan dalam suatu alur proses yang terjadi, penotasian jenis-jenis equipment berdasar jenis dan fungsinya diperlukan untuk mengenali dan memudahkan pembacaan atau penulisannya.
Contoh :
- Equipment untuk penyimpanan
• T - Tank
• S - Spheres
- Equipment untuk proses kompresi atau pemompaan
• P - Pump
• K - Compressor
- Equipment untuk proses pemisahan
• V - Vessel / Separator
• dan lain-lain
- Equipment untuk proses kontrol
• LCV - Liquid Control Valve (Water/Oil)
• PCV - Pressure Control Valve (gas)
4. Penomoran berbagai equipment dan instrument untuk keperluan sebuah proyek
Dalam hal ini terjadi lagi berbagai kemungkinan penomoran yang diperlukan tergantung pada kebijaksanaan perusahaan operator Migas tersebut atau dapat juga kesepakatan dengan kontraktor sebuah proyek. Yang paling penting adalah bagaimana mengatur nomor-nomor tersebut agar dapat mudah diingat atau dikenali dan tidak terjadi tumpang tindih sehingga memudahkan operasional, maintenance ataupun keperluan proyek yang baru.
Misal :
Untuk equipment dan Instrument kontrol
Jika ada sebuah unit operasi pemisahan 3 fasa dari HP (High Pressure) sampai LP Separator (Low Pressure) yang masing-masing terdiri dari 3 train dalam suatu area seperti contoh pada tahap 2; dan separator tersebut merupakan unit pertama yang dibangun di tempat tersebut, maka penomorannya dapat berupa : V-2001 sedangkan karena tiga train maka dapat disebut sebagai Train A/B/C sehingga nomornya bisa berbunyi V-2001A, V-2001B, V-2001C. Jadi dalam P&ID No. DM-PP-2001 ada 3 buah sheet untuk ketiga HP Separator diatas.
Berikutnya dari IP sampai LP Separator bisa dilanjutkan dengan nomor berikutnya yakni 2002 sampai 2003, sehingga untuk IP separator (3 train) : V-2002 A/B/C, dan LP separator : V-2003 A/B/C. Sedangkan P&ID No.-nya otomatis berlanjut ke DM-PP-2002 (IP Separator) dan DM-PP-2003 (LP Separator).
Semua unit instrumen kontrol di sekitar vessel tersebut akan mengikuti nomor vesselnya untuk memudahkan yakni : Liquid Control Valve untuk Oil dan Water bisa dinotasikan sebagai LCV-2001 A (oil) dan LCV-2001 B (water). Sedangkan bila PCV hanya satu buah maka bisa dibuat PCV-2001 saja atau PCV-2001 A. Demikian pula bila PSV Separator tersebut diperlukan 2 buah maka dinotasikan sebagai PSV-2001 A dan PSV-2001 B.
Segala macam penomoran baik itu equipment atau instrumentasi harus cocok antara P&ID dengan data sheet, quotation dan segala macam laporan yang perlu dibuat juga sehingga tidak ada konflik penomoran di kemudian hari.
5. Penomoran Pipa (Line Numbering)
Hal pertama yang perlu diketahui adalah apakah perusahaan tersebut sudah mempunyai standar spesifikasi perpipaan tertentu, sedangkan bila belum mungkin bisa dilihat ASME atau berbagai standar internasional yang ada sebagai acuannya.
Penomoran dapat dilakukan lebih mudah jika standar perusahaan sudah ada maka spesifikasi perpipaan yang ada akan disesuaikan untuk keperluan pipa proses yang cocok (berlainan untuk fluida HC, Sea water, Chemicals, Drain, Instrument Air, etc.) .
Misal :
Jika kita akan memulai penomoran line (pipa) dari angka 100 untuk membedakan dan memudahkan pencarian. Dan pipa untuk service fluida HC terdiri dari 5 kelas untuk berbagai rating dan maximum working pressure yang dapat dicapai, maka penotasian dapat berupa kelas A s/d E untuk service fluida HC ini, yang dibedakan dengan ratingnya, misalnya kelas C s/d E untuk rating pipa yang lebih tinggi karena adanya kontaminan CO2 dalam fluida HC tersebut.
Selanjutnya berapa ukuran pipa yang dimaksud (setelah dipastikan dengan perhitungan proses tentunya) adalah penotasian berikutnya, sehingga penotasian lengkap dapat berupa :
100 - A - 2" atau 100 - HC - A - 2"
yang mana berarti angka 100 adalah line number, huruf HC merupakan jenis fluida, huruf A adalah kelas yang dimaksud misal kelas 150#, dan 2" adalah ukuran pipanya. Semua hal ini harus cocok dengan notasi pada gambar isometrik perpipaan yang ada serta segala macam gambar yang diproduksi oleh departemen piping.
6. Pengenalan berbagai simbol dalam P&ID
Di tahap ini kita harus mulai membiasakan diri bagaimana menggambarkan komponen statik/rotating equipment, instrumentasi, piping, elektrikal atau sedikit struktur dalam P&ID. Kembali lagi acuan pertama yang harus kita ambil adalah standar perusahaan terkait atau mungkin standar-standar internasional yang sudah ada sehingga akan lebih memudahkan penggambarannya. Notasi ini juga diharap dapat lebih memudahkan membaca dan mengenali berbagai komponen unit operasi dalam P&ID tersebut.
Perlu diingat gambar simbol dibawah ini hanyalah contoh, karena belum tentu sama di setiap perusahaan terutama Oil & Gas.
Kita mulai dari pengenalan simbol statik dan rotating equipment, berbagai contoh penotasian simbolnya adalah sbb. :
Berlanjut ke instrumentasi dan bermacam valve. Bagian yang perlu diingat dan dilihat disini dari sisi pengontrolannya adalah apakah instrument yang terpasang di suatu line atau equipment tersebut hanya dapat dilihat indikasinya di lokal saja atau dapat juga dilihat di control room via DCS/PLC sistem, juga apakah pengontrolan harus dilakukan secara manual ataukah remote dari control room ? Juga apakah hanya ada indikasinya ataukah ada fasilitas merekam data di control room dari instrument tersebut, dan bagaimanakah indikasi trip/failure yang terjadi .....semuanya itu yang akan dilengkapi dan disarankan oleh departemen instrumen bila diperlukan.
Lalu berbagai notasi piping sistem, seperti spec break, perbedaan process line utama dan line process pendukung, juga adanya reducer dan expander, dll.
7. Pengenalan komponen penting lainnya dalam P&ID
Sebuah P&ID bisa secara umum terdiri dari kerangka berupa :
- Drawing index : berisi daftar nomor P&ID dan judul-judul dari P&ID alur process/utilities yang dibuat, revisi yang pernah dibuat serta status P&ID tersebut apakah gambar dibuat untuk keperluan konstruksi atau untuk keperluan demolish/removal. Judul yang dapat dibuat untuk sebuah P&ID bisa berupa penggambaran satu buah equipment dalam alur proses utamanya, misal High Pressure Separator (V-2001 A). Drawing index ini penomorannya dapat dimulai dari 00, melanjutkan contoh diatas maka nomor drawing index adalah DM-PP-2000 sheet 1 of 3, dengan judul : Drawing Index.
- Selanjutnya adalah simbol-simbol baik simbol statik/rotating equipment, instrumentasi, piping, elektrikal yang diperlukan dalam proyek tersebut yang dipecah jadi beberapa sheet bila diperlukan maka penomorannya bisa dicontohkan DM-PP-2000 sheet 2 and 3 of 3, melanjutkan notasi penomoran dari drawing index, dengan berjudul standard symbol and legend.
- Setelah itu jenis gambar dalam pada suatu P&ID adalah unit2 operasi yang ada dalam alur proses (process P&ID) seperti yang sudah dicontohkan sebelumnya DM-PP-2001 sheet 1 of 3, judul : High Pressure Separator (V-2001 A).
-Terakhir bila diperlukan utilities P&ID maka penomoran bisa langsung dilanjutkan pada serial no. selanjutnya yakni : 2200 s/d 2299 untuk membedakan dengan proses P&ID, maka dapat ditulis : DM-UP-2200. Utilities P&ID ini dapat berupa jetting water system, instrument air system.
Sebuah P&ID bila dibuat untuk keperluan modifikasi maka gambar konstruksi dan demolish/removal diperlukan sehingga dapat terlihat bedanya dan dapat diidentifikasi saat konstruksi dilakukan. Dalam gambar removal diperlukan pengidentifikasian sedemikian rupa sehingga segala macam equipment yang tidak diperlukan lagi, diganti atau pipa yang mau dipotong dan di-blind harus diidentifikasi satu persatu agar tidak terlupa saat konstruksi.
Sedang sebaliknya dalam gambar konstruksi segala equipment yang baru dipasang, diganti atau dibuat alur yang baru harus diidentifikasi, agar bisa dicek ulang saat konstruksi selesai dilakukan. Lain halnya bila unit operasi tersebut baru, maka tentu saja tidak ada gambar removal yang diperlukan disitu.
Hal penting lainnya yang harus diingat dalam sebuah P&ID adalah sambungan (link) antara berbagai P&ID harus match baik itu pipingnya : ukuran, spek, line numbernya maupun posisinya. Kemudian juga sinyal instrumentasi yang ada, baik itu signal elektrikal ataupun pneumatic. Tentunya bagan ”to and from” dari dan ke berbagai P&ID untuk penotasian piping atau sinyal itu harus dicantumkan lengkap disitu sehingga memudahkan pencarian dan pengertiannya aliran atau dari dan kemana sinyal itu berjalan.
8. Pengenalan Proses system
Dalam tahap ini diharapkan kita dapat mulai belajar membuat P&ID sederhana atau sekurangnya PFD dari sebuah alur proses. Berbagai contoh PFD dalam GPSA, Engineering Data Book Vol II dapat dilihat dan dari situ pelan-pelan bisa dipelajari bagaimana melengkapinya sehingga jadi sebuah P&ID dengan bantuan supervisor atau senior proses engineer yang ada. Yang terpenting disini adalah kita harus mengerti alur proses yang terjadi berikut kemungkinan berbagai fenomena yang terjadi didalamnya.
Sebagai contoh jika berbicara Multistage Oil Stabilization maka kemungkinan disitu ada berbagai Separator dari high pressure sampai low pressure dimana gas dari ketiga macam separator tersebut dialirkan ke gas treating sistem yang mungkin berupa acid gas removal sistem, sulfur recovery sistem, atau dehydration system, dimana sebelum gas dari LP separator dialirkan masuk ke gas treating sistem maka gas tersebut harus dikompresi sampai intermediate pressure yang dicampur dengan high pressure gas dari separator diawal alur proses ini bila memang gas treating sistem beroperasi dalam kisaran intermediate sistem.
Juga demikian untuk oil dari oil stabilization tersebut akan masuk ke oil treating sistem dimana diharapkan dapat diperoleh kandungan crude oil yang lebih pas sesuai standar dari buyer sebelum dipasarkan atau dilemparkan ke storage untuk penjualan, tetapi tentu saja jika multistage oil stabilization yang dipakai maka mempunyai kekurangan dari sisi ekonomisnya karena lebih banyak sistem kompresi dan pemompaan yang harus dipakai, tidak cocok untuk operasi di offshore, dan recovery serta API gravity dari crude oil yang dihasilkan mungkin tidak semaksimal memakai stabilizer sistem saja tetapi kandungan garam-garam yang ada dalam crude oil yang dihasilkan dapat lebih maksimal dibandingkan stabilizer sistem. Multistage Oil StabilizationTo Oil DesaltingTo Water TreatingLP CompressorIP SeparatorLP SeparatorIP CompressorGas From Primary SeparationOil From Primary SeparationTo Gas TreatingHeaterPump
Masih banyak pengenalan proses sistem lain yang perlu diketahui dalam produksi minyak dan gas, yang mana sebaiknya dicari dari berbagai sumber yang ada untuk mengerti fenomena yang terjadi.
Disamping itu karena tulisan ini dimaksudkan sebagai pengenalan maka banyak sekali hal-hal dasar lain yang tidak dicantumkan disini, dimana diharap tulisan ini hanya membuka wacana awal membuat suatu P&ID yang bersifat dasar .
Memang tulisan ini masih banyak kekurangannya, mungkin malah membosankan, hehehe.............. maka jika ada masukan ataupun kritikan yang membangun semoga dapat menyempurnakan isi tulisan ini. Semoga berguna !
Reference :
1. GPSA (Gas Processing and Supplier Association) Engineering Data Book, Vol 2.
2. P&ID System Guideline, Engineer’s India Ltd. , 1983.
3. Process Guideline dari berbagai engineering company atau klien yang pernah “diintip” untuk dibaca dan dipahami.
4. Pekerjaan mengupdate dan membuat P&ID sehari-hari dengan berbagai masukan senior engineer dan teman-teman yang sudah berpengalaman.
About Author : (February 2004)
Alvin Alfiyansyah is a process engineer, currently working at PT Technip Indonesia – Balikpapan with responsibility of handling process design in Oil and Gas Field . Before joint Technip, he was a sales engineer and project sales for instrumentation and process equipment in PT Ultra Delta Maju – Jakarta. Graduated from Chemical Engineering Department of National Institute of Technology Bandung (Itenas) in 2000. Member of PII, INKINDO and active member of Indonesian Oil and Gas Community (KMI) of East Kalimantan Chapter.