Sunday, 11 March 2012

CLASS NOTATION, SURVEY CLASS, AND STATUTORY

-->
Survey Class
Badan  klasifikasi kapal merupakan bagian penting dari sebuah bangunan kapal. Di Indonesia sendiri sudah terdapat badan klasifikasi yaitu Biro Klasifikasi Indonesia (BKI) namun keberadaan BKI masih belum dapat untuk menjadi anggota asosiasi dunia. Namun untuk kapal yang berlayar di daerah perairan Indonesia dapat menggunakan peraturan dari BKI. Selain BKI di Indonesia sendiri tidak jarang menggunakan klas asing untuk sebuah kapal. Klas yang biasa digunakan oleh kapal di Indonesia antara lain LR (Lloyd Register), BV (Bureau Veritas), RINA (Registro Italiano Navale),GL (Germanischer Lloyd), maupun ABS (American Bureau of Shipping).

    (Gambar 1. Logo Badan Klasifikasi)
Beberapa dari badan klasifikasi ini berasosiasi membentuk suatu asosiasi internasional yang disebut IACS (International Association Classification Society) yang merupakan salah satu anggota komite teknis dari IMO. Anggota IACS pada saat ini adalah:
-          Lloyd's Register of Shipping (LRS) berdiri 1760 di London , Inggris
-          Bureau Veritas (BV) berdiri 1828 di Paris, Perancis
-          Registro Italiano Navale (RINA) berdiri 1861 di Genoa, Italia
-          American Bureau of Shipping (ABS) berdiri 1862 di Houston, Amerika Serikat
-          Det Norske Veritas (DNV) berdiri 1864 di Oslo, Norwegia
-          Germanischer Lloyd (GL) berdiri 1867 di Hamburg, Jerman
-          Nippon Kaiji Kyokai (NKK) berdiri 1899 di Tokyo, Jepang
-          Russian Maritime Register of Shipping (Российский морской регистр судоходства) berdiri 1913 di St Petersburg, Russia
-          China Classification Society (CCS) berdiri 1956 di Beijing, RRC
-          Korean Register of Shipping (KR) berdiri 1960 di Daejeon, Korea Selatan
-          Indian Register of Shipping* (IRS) berdiri 1975 di Mumbai, India
Badan-badan klasifikasi anggota IACS mempunyai suatu sistem prosedur yang standard dalam hal-hal yang mendasar seperti pola training surveyor, kode etik dan banyak hal lainnya terutama dalam hal prosedur operasionalnya.
Disamping itu banyak lagi badan klasifikasi di negara lainnya yang diluar organisasi IACS, antara lain:
-          Hellenic Register of Shipping (HRS) berdiri 1919 di Pireus, Yunani
-          Polish Register of Shipping (PRS) berdiri 1936 di Gdańsk, Polandia
-          Croatian Register of Shipping (CRS) berdiri 1949 di Split, Kroasia
-          Biro Klasifikasi Indonesia (BKI) berdiri 1964 di Jakarta, Indonesia
-          Registro Internacional Naval (RINAVE) berdiri 1973 di Paris, Perancis
-          Brazilian Register of Shipping (RBNA) berdiri 1982 di Rio de Janeiro, Brazil
-          International Register of Shipping (IROS) berdiri 1993 di Miami, Amerika Serikat
-          Iranian Classification Society (ICS) berdiri 2007 di Tehran, Iran
Class Notation
Notasi klas merupakan salah satu cara klas untuk membedakan jenis kapal yang digunakan. Tujuan dari notasi klas ini adalah memberikan simbol dari berbagai atribut yang digunakan dalam sebuah kapal sesuai dengan ketentuan yang dibuat oleh klas. Simbol biasanya dicetak pada bagian kapal maupun dokumen dari kapal. Hal ini dimaksudkan ketika kapal dok pihak galangan dapat mengetahui seluk beluk dari kapal tersebut. Selain itu simbol-simbol tersebut juga mempunyai peranan penting untuk mempersingkat bahasa perkapalan. Jadi dalam sebuah kapal tidak memerlukan tulisan panjang untuk mengetahui maksud maupun kualitas dari kapal tersebut.
Dalam notasi ini saya mengambil contoh notasi dari BKI (Biro Klasifikasi Indonesia). Berikut adalah notasi-notasi yang terdapat dalam BKI.

Tanda klas untuk bagian lambung kapal
Tanda
Penjelasan
Lambung kapal dibangun dibawah pengawasan dan sesuai dengan peraturan klasifikasi selain BKI yang diakui
Lambung kapal dibangun dibawah pengawasan dan konstruksi BKI dari bahan yang telah diuji oleh BKI
Adapun persyaratan lambung yaitu
Jenis
Keterangan
A100
Lambung kapal seluruhnya sesuai dengan persyaratan dan peraturan konstruksi dari BKI atau badan klasifikasi lain yang dianggap setara
A90
Lambung kapal tidak sepenuhnya sesuai atau sudah tidak memenuhi persyratan BKI namun klas tetap dapat diperthankan untuk periode yang diperpendek atau dengan interval survey yang lebih pendek
 Selain lambung terdapat juga notasi untuk instalasi mesin dan berikut adalah beberapa persyaratan dalam mesin
Simbol
Keterangan
  SM
Instalasi mesin dan semua instalasi yang tercakup oleh klasifikasi memnuhi persyaratan peraturan konstruksi BKI atau peraturan lain yang dianggap setara
A-SM
Instalasi untuk kapal tanpa penggerak sendiri dan alat apung memenuhi persyaratan peraturan BKI atau peraturan lain yang dianggap setara
  SM
Instalasi mesin tidak sepenuhnya memenuhi persyaratan konstruksi BKI tetapi fungsi keselamatan dan kelayakan jalan terjamin
A-SM
Instalasi mesin untuk kaoal tanpa penggerak sendiri dan alat apung tidak sepenuhnya memenuhi persyaratan konstruksi BKI akan tetapi fungsi keselamatan dan kelayakan jalan terjamin
Berikutnya unsur terpenting dari sebuah kapal adalah notasi daerah pelayaran hal ini untuk membatasi daerah pelayaran sesuai dengan konstruksi kapal yang telah ditetapkan oleh BKI. Berikut notasi daerah pelayaran.
Notasi
Pelayaran
Keterangan

Samudra
Daerah pelayaran tak terbatas untuk semua Samudra
P
Samudra terbatas
Daerah pelayaran dengan syarat terdekat ke pelabuahn perlindungan dan jarak dari pantai tidak melebihi 200 mil laut. Biasanya untuk dareah pelayaran Asia Tenggara, Laut Tengah, Lauth Hitam, Laut  Karibia atu laut lain yang sama kondisinya
L
Lokal
Daerah Pelayaran dengan syarat pelayaran sepanjang pantai dengan jarak 50 mil laut, serta untuk pelayaran tertutup seperti perairan Riau tau perairan lain yang sama kondisinya
T
Tenang
Daerah pelayaran untuk perairan tenang, teluk, atau perairan yang sama tidak terdapat ombak besar
D
Pedalaman
Daerah pelayaran untuk pedalaman
Selain notasi daerah pelayaran juga terdapat notasi jenis steel yang digunakan pada kapal tersebut. Berikut notasinya.
Notasi
Keterangan
HTS
High Tansile Steel
AL
Aluminium
FRP
Fiber Reinforced
K
kayu
Statutory
Pada dasarnya klasifikasi adalah konsep yang sangat sederhana berdasarkan tiga elemen utama, diterapkan baik untuk fase baru dibangun dan operasional.
-          Menetapkan standar (Klasifikasi Peraturan)
-          Verifikasi sesuai dengan standar (persetujuan spesifikasi dan gambar, survei dan pengujian)
-          Mendokumentasikan sesuai dengan standar (survei laporan, sertifikat Klasifikasi)
Badan Klasifikasi menerbitkan peraturan kalsifikasi yang berisikan persyartan untuk mengklasifikasi dan memlihara kapal. Kriteria aplikasi untuk peraturan  klasifikasi dalam beberapa bafian yang diatur ketentuannya pada bagian A sampai bagian F dari klasifikasi dan regulasi. Berikut regulasi perbagian.
Part A : klasifikasi dan survey berlaku untuk semua jenis kapal
Part B : Lambung dan stabilitas kapal
Part C : sistem permesinan
Part D : Material dan Pengelasan
Part E : Notasi service barlaku untu pelayaran kapal. Apabila diperlukan aplikasi lebih tepat untuk mendefinisikan setiap bab dari bagian peraturan
Part F : Notasi tambahan klas berlaku atas permintaan khusus atau untuk semua kapal.
Dalam proses kalsifikasi dimulai dari pemahaman peraturan klasifikasi klas yang meliputi peraturan, petunjuk tambahan dan dokumen-dokumen lain yang diperlukan dari sebuah kapal. Kemudian dilanjutkan dengan proses pengesahan gambar dan perhitungan dan jika sudah memenuhi persyaratan kalsifikasi maka akan diterbitkan sertifikat untuk kapal tersebut. Selanjutnya sesuai dengan ketentuan klasifikasi, kapal secara berkala harus diadakan pemeriksaan dengan tujuan klasifikasinya dapat dipertahankan.
Dokumen-dokumen klasifikasi merupakan dokumen yang tidak dapat dirubah atau diganggu gugat oleh pihak atau badan lain dan sebaliknya pihak Klasifikasi juga tidak bertanggung jawab terhadap produk, desain atau pekerjaan pihak lain walaupun beberapa juga berkaitan dengan Klasifikasi.
Beberapa jadwal yang diterapkan untuk survey setiap kapal berdasarkan waktu dan jenis survey.
-          Annual Survey :survey yang dilakukan setiap tahun dan jatuh temponya bertepatan dengan tanggal penerbitan sertifikat.
-          Intermediate Survey : survey yang dilakukan setiap 2 ½ tahun yang berada diantara survey pembaharuan Klas kapal.
-          Class Renewal Survey : survey pembaharuan klas yang dilakukan setiap 5 tahun bertepatan dengan berakhirnya masa berlaku sertifikat kapal.
-          Bottom Survey : survey bagian bawah garis air lambung kapal yang dilakukan diatas dok setiap 2 ½ tahun
-          Tailshaft Survey : survey poros propeller dengan mencabut poros propeller yang dilakukan setiap 5 – 10 tahun
-          Boiler Survey  : survey boiler dengan membuka dan melepas seluruh komponen boiler

PLAT BAJA PADA KAPAL

-->
Explanation
            Plat kapal merupakan plat yang berbeda dengan plat pada umumnya. Kelebihan plat kapal tentunya terkandung unsur lain selain baja sebagai unsur utama. Unsur campuran pada plat kapal berpengaruh terhadap laju korosi yang terjadi pada kapal nantinya. Unsur-unsur campuran tersebut tentunya harus menambah kualitas dari plat tersebut.
            Plat kapal dibuat dari peleburan bijih besi dalam tungku sembur yang mempunyai struktur kerucut dan tungku tersebut tentunya terbuat dari bahan tahan api. Panas peleburan menggunakan kokas dan batu kapur agar kerak pada bijih besi dapat terangkat dan tidak tercampur. Kandungan dalam tiap lembar plat adalah 92-97 persen merupakan besi. Sisanya terdapat kandungan karbon, silikon, mangan, belerang, dan fosfor. Tentunya dalam cetakan plat kotoran yang terbawa harus di minimalisir untuk menjaga kualitas dari plat tersebut.


(Gambar 1. Plat Kapal)
            Baja secara luar dapat diartikan sebagai paduan antara besi dan karbon. Untuk kandungan karbon bervariasi berkisar antara 0,1% dan ketika baja telah mengeras menjadi 1,8% dari kandungan seluruh plat. Proses pengasaman digunakan untuk memperbaiki plat besi yang rendah dengan memasukkan unsur  Fosfor dan  unsur sulfur. Kedua unsur tersebut kaya akan silikon dan menghasilkan terak asam yang dibutuhkan plat. Unsur fosfor merupakan kapur yang menghasikan terak dasar. Dari 85% unsur baja yang diproduksi menggunakan teknik modern dan kualitas tentunya juga baik dengan unsur bijih unggul.
            Dalam plat kapal terdapat tahapan proses yang mana merupakan tahapan untuk mencapai kualitas plat yang baik. Proses tersebut antara lain
  1. Open heart Process.
  2. Electric Furnaces yaitu proses.
  3. Oxygen Process.
  4. Chemical Additional.
Masing-masing proses mempunyai cara tersendiri dalam memperlakukan bijih besi logam sampai menjadi plat.
            Open hearth proses merupakan proses peleburan bijih besi dalam tungku besar yang mana untuk memproduksi baja dalam jumlah besar. Setelah open hearth proses dilanjutkan electic funance yang mana difungsikan sebagai penyulingan bahan untuk memberikan komposisi yang dibutuhkan. Proses electric furnance sering digunakan untuk produksi bermutu tinggi. Kemudian Oxygen proses adalah salah satu prose modern. Sebuah jet oksigen dengan kemurnian tinggi diarahkan ke permukaan logam cair untuk memperbaiki baja tersebut. Proses berikutnya adalah chemical additional to steel yang mana proses ini adalah penambahan bahan kimia yang berfungsi untuk menjadikan kualitas baja ini menjadi lebih baik dengan komposisi yang sesuai.
(gambar 2. Tungku peleburan baja)
            Pabrik pembuatan plat kapal memproduksi dalam jumlah banyak sehingga ukuran plat telat ditentukan oleh pabrikan sehingga lajur plet pada pembuatan kapal baru harus menyesuaikan dengan buatan pavrik. Jika tidak memungkinkan sebuah kapal untuk memuat satu lajur plat maka dilakukan pemotongan plat sesuai dengan bukaan kulit kapal yang telah direncanakan. Plat menetapkan sebuah ukuran untuk dibuat secara massal karena jika dibuat perbijian maka pabrik akan mengalami kerugian pada bidang produksi. Jika pihak galangan ingin memesan plat dengan ukuran khusus maka pihak galangan harus mengeluarkan biaya lebih untuk produksi plat yang tidak sesuai pasaran.
            Baja untuk kapal konstruksi lambung biasanya mengandung 0,15-0,23% kandungan unsur karbon. Sedangkan untuk kandungan fosfor dan sulfur kurang dari 0,05%. Jika kandungan fosfor dan sulfur terlalu tinggi dapat merugikan pengelasan dari baja dan dapt terjadi keretakan jika mengandung sulfur yang tinggi. Baja untuk kapal digolongkan oleh badan klasifikasi. Dalam hal ini LR (Lloyd’s Register) dan produsen melakukan inspeksi pengujian yang telah ditentukan oleh pabrik baja sebelum pengiriman. Semua plat bersertifikat ditandai dan diberikan keterangan sesuai aturan yang diberlkakukan.
            Sifat-sifat baja dapat berubah karena perlakuan panas terhadap baja tersebut. Hal ini tentunya sangat berpengaruh pada proses pengelasan. Perlakuan panas terhadap baja tergantung dari bahan baja tersebut. Adapun proses-proses perlakuan panar terhadap baja antara lain.
  1. Annealing
Merupakan proses yang terdiri atas pemanasan baja sampai 8500-9500 C dan didinginkan dalamtungku dengan sangat lambat. Hal ini dapat mengurangi tekanan internal untuk melunakkann baja dan dapat membuat kualitas baja tetap baik ketika perlakuan panas berikutnya.
  1. Normalizing.
Yaitu proses memenaskan baja perlahan kemudian didinginkan. Untuk proses pendinginan dipercepat agar baja lebih kuat dan keras.
  1. Quenching
Baja dipanaskan sampai suhu tertentu kemudian baja panas dipadamkan menggunakan air. Proses tersebut menghasilkan baja yang keras dan struksur yang lebih baik.
  1. Tempering.
Merupakan kelanjutan proses quenching dan pemanasan samapi 6800 C. Dan kemudian didinginkan dalam minyak atau air.
  1. Stress Relieving
Mengurangi tekanan internal suhu baja akan naik sehingga tidak ada perubahan struktur bahan terjadi serta perlahan-lahan didinginkan.
            Pada awalnya badan klasifikasi LR memberikan spesifikasi yang berbeda untuk setiap baja. Namun pada tahun 1959, badan klasifikasi membuat kesepakatan untuk membakukan semua kebutuhab plat. Sekarang ada lima kualitas baja yang berbeda menurut badan klasifikasi dalam konstruksi kapal. Adapun tiap grade di beri perbedaan yaitu grade A, grade B, grade C, grade D, dan grade E. Untuk grade A merupakan baja yang mempunyai kualitas bagus untuk sebuah bangunan kapal. Sedangkan rade B adalah jenis baja ringan yang mempunyai kualitas lebih bagus dari pada baja grade A. Baja grade B metupakan baja dimana tebal platnya yang diperulukan untuk daerah kritis. Sedang ]kan Grade C,D,dan E memiliki tingkat kelenturan yang baik.
 (gambar 3. Section Plat pada Bangunan Kapal)
            Pada setiap baja mempunyai kekuatan tarik terutama pada bangunan kapal. Kekuatan tarik plat baja pada sebuah kapal terjadi paling besar pada daerah lambung kapal terutama kapal tanker, kontainer dan cargo. Hal ini membuat konstruksi pada bagian dek menaglami penurunan ketebalan untuk mengurangi berat pada kapal. Maka pada kulit bawah dan frame pada bagian midship lebih tebal karena mengalami defleksi yang besar pula.
            Kekuatan tarik baja adalah aplikasi penting dalam sebuah bangunan kapal karena sebuah plat baja juga mengalami kelelahan saat proses pengelasan. Selain kekuataan tarik baja perlu diperhatikan juga tingkat korosi dari baja tersebut dan dilakukan pemeriksaan untuk mewaspadai hal tersebut. Baja dengan kekuatan tarik yang lebih tinggi digunakan untuk konstruksi lambung yang telah disetujui oleh pihak badan klasifikasi. Spesifikasi meliputi metode pembuatan, komposisi kimia, perlakuan panas, dan sifat mekanik dari baja tersebut.
            Penempaan baja merupakan sebuah metode untuk membentuk sebuah logam dengan meberikan panas pada baja. Pemanasn terhadap baja adalah dengan menaikkan suhu panas, kemudian baja di tempa dengan palu sehingga membentuk bagian yang diinginkan.
Analysis
            Plat baja yang digunakan untuk kapal merupakan baja yang berbeda dengan jenis baja yang ada pada umumnya. Sebagai perbandingan sebuah plat baja untuk kapal mempunyai kandungan campuran selain baja sebagai unsur utama plat. Plat baja kapal mempunyai bergai campuran unsur kimia diantaranya karbon, fosfor dan sulfur.
            Plat baja untuk kapal mempunyai kelebihan pada tingkat ketahanan terhadap korosi air laut. Selain mempunyai kekuatan tarik yang lebih bagus, plat baja kapal mempunyai kadar karbon sebagai pelindung dari korosi. Untuk itu plat baja pada kapal dibuat khusus. Adapun tingkat kekerasan atau kekuatan tarik dari plat baja kapal lebih baik dari pada plat baja lainnya.
            Untuk sertifikasi plat baja pada kapal melewati tahap pengujian atau serangkaian tes uji material. Hal tersebut tentunya harus mendapat persetujuan dari badan klasifikasi. Uji material pada plat kapal ditujukan untuk mengetahui performa dari material karena plat kapal ketika di laut mengalami beberapa defleksi yang terjadi akibat gesekan antara aliran air laut dengan badan kapal atau plat kapal. Jadi pengujian untuk plat kapal juga berbeda dengan plat yang bukan untuk plat kapal. Setelah dilakukan serangkaian uji material maka sertifikat dikeluarkan untuk mendapat nialai jual yang sesuai dengan kebutuhan pasar. Sertifikat dibuat atas persetujuan laboratorium uji material dengan badan kalsifikasi kapal. Setelah itu pihak galangan selaku pembuat kapal dapat menggunakan plat tersebut seuai dengan kebutuhan konstruksi kapal.



Conslusion
            Plat baja pada kapal merupakan plat yang mempunyai kualitas bagus dari pada plat-plat yang digunakan pada umumnya. Hal tersebut dikarenakan sebuah kapal akan melakukan pelayaran di laut maka sifat korodif dari air laut merupakan problem dan selain itu tekanan dari air laut juga mempengaruhi ketahanan dari plat baja tersebut.
            Proses pembuatan plat merupakan peleburan bijih besi didalam tungku yang tahan terhadap api. Adapun tahapan-tahapan pembuatan plat baja adalah
1.      Open heart Process yaitu proses peleburan bijih besi.
2.      Electric Furnaces yaitu proses penyulingan bijih besi cair.
3.      Oxygen Process yaitu proses memperbaiki cairan logam.
4.      Chemical Additional to steel yaitu proses penambahan cairan kimia sesuai kebutuhan plat baja.
Dari proses tersebut maka produksi plat dibuat secara massal dengan ukuran yang sama. Hal ini dikarenakan pabrikan plat baja tentunya tidak ingin menambah biaya produksi untuk jenis plat dengan ukuran berbeda.
Pada sebuah plat baja untuk kapal mempunyai kandungan lain seperti fosfor, sulfur, dan karbon. Untuk karbon, zat ini mempunyai ketahanan terhadap korosi yang baik. Namun jika terlalu banyak kadar karbon maka plat akan semakin berat maka kadar karbon dalam satu plat tidak lebih dari 1%.

Thursday, 23 February 2012

Sistem Sanitary



            Sistem Sanitary atau bisa disebut domestic water system adalah sistem distribusi air bersih (fresh water) di dalam
kapal yang digunakan oleh ABK dalam memenuhi kebutuhan akan air minum dan memasak, untuk mandi, mencuci dan lain-lain.

            Sedangkan untuk kebutuhan di WC (water closed) maka dengan perencanaan sistem yang sama digunakan sistem air laut (sea water) yang disuplai ke tiap deck yang memiliki kamar mandi. Kedua sistem pelayanan diatas memiliki dasar kerja yang sama menggunakan pompa otomatis untuk mensuplai fluida ke tangki yang sudah memiliki tekanan (hydropore) yang disuplai dari sistem udara tekan. Udara tekan ini direncanakan memiliki head dan tekanan yang memadai untuk dapat mensuplai air ketempat yang memerlukan, diantaranya kamar mandi, laundry room, galley, dan wash basin. Pompa dioperasikan secara otomatis dengan swicth tekanan yang bekerja berdasar level air yang dikehendaki [DA. Taylor].

a. Fungsi sistem sanitari.
  • Untuk melayani ABK dalam kebutuhan untuk saniter.
  • Diperlukan dalam proses treatment fecal sebagai pembilas.
b. Bagian-bagian dari sistem sanitari.
  • Closet dan urinal.
  • Pompa dan peralatan outfitting.
  • Hydrophore.
  • Filter.
  • Tangki.
  • Sewage treatment plan.

c. Hal yang perlu dipertimbangkan dalam mendesain sistem sanitary.
  • Toilet dan kamar mandi pada tiap-tiap deck diusahakan satu jalur,untuk tujuan instalasi sederhana dan memudahkan dalam maintenance.
  • Kapasitas tangki fecal dan urinal disesuaikan dengan jumlahABK dan lama pelayaran.