Saturday, 18 February 2012

SYSTEM LOADING AND UNLOADING



1         Umum
Bongkar muat pada Kapal container ini didesain dengan menggunakan peralatan bongkar muat berupa ship crane dengan telescopic crane. Ship crane digunakan untuk bongkar dan muat kontainer dengan kapasitas max per crane 25 ton(SWL). Tetapi kapal ini dirancang tanpa menggunakan Crane yang ada di kapal, tetapi menggunakan Port crane yang berada pada pelabuhan

2         Sistem Mekanikal
2.1 Crane sistem
Kapal ini menggunakan tidak memiliki peralatan bongkar muat
Syarat-syarat untuk mesin Derek adalah :
§ Mampu mengangkat dan menurunkan bebn dengan kecepatan tertentu.
§ Mudah mengendalikan kecepatan turun naiknya beban.
§ Dapat berhenti pada posisi yang dikehendaki dengan menggunakan kemampuan rem (brake).
§ Mudah dioperasikan meskipun tidak memerlukan keahlian dalam mempergunakan mesin-mesin modern.
Peralatan deck crane, boom, dan winch untuk keperluan bongkar muat pada sebuah kapal harus memenuhi criteria berikut :
1.       kapasitas angkut muat yang besar.
2.       pengoperasiannya tidak memerlukan banyak orang.
3.       dapat dioperasikan sewaktu-waktu dimana kondisi boom siap terpasang untuk beroperasi secara terus menerus dipelabuhan.
4.       untuk kapal tipe general semi container, sebuah deck crane harus dapat melayani palkah dengan berputar 360.

2.2 Palkah
            Tutup lubang palkah harus betul-betul kedap air dan melindungi bagian kapal dari hempasan air serta kuat untuk menahan container yang diletakkan di atasnya. Pembukaan dan penutupan palkah ini dirancang dengan kecepatan tertentu sehingga dapat memperpendek waktu bertambat kapal di pelabuhan, dengan begitu biaya untuk berlabuh dapat diminimalkan. Tutup lubang palkah tidak boleh membebani geladak dan tidak mengganggu operasi pemuatan dan pembongkaran muatan barang. Pada garis besarnya ditinjau dari dari cara kerjanya system pembukaan / penutupan lubang palkah terbagi atas 4 sistem, yaitu :
1)     Sistem pembukaan / penutupan palkah yang diangkat
2)     Sistem pembukaan / penutupan palkah yang didorong dan diatur
3)     Sistem pembukaan / penutupan palkah yang dilipat dan disandarkan
4)     Sistem pembukaan / penutupan palkah yang digulung
            Bukaan Palkah untuk kapal ini dirancang dengan menggunakan system pembukaan / penutupan palkah yang dilipat dan disandarkan. System ini dilakukan dengan cara melipat dan menarik tiap seksi tutup lubang palkah tersebut serta mengaturnya pada suatu tempat khusus. Sistem buka tutup ini menggunakan sistem hidrolis. Tiap seksi tersebut dapat dilipat apabila seksi tertutup lubang palkah itu diatur dan tak digunakan.

Yuk, Intip Mewahnya Kapal Pesiar Costa Concordia



Ship Facts
Lenght: 290 .00 m
Beam: 36.00 m
Draft: 8.00 m
Gross Tonnage : 114,500 m.t.
Passengers: 3,700
Crew: 1,100
Decks: 17
Engine: Wartsila, 12-cylinder
Power: 12,000 kW
Speed: 23.0 kn
Built: 2006
Shipyard: Fincantieri Yards
Price: 600 millions USD
 CLASS: RINA (Registro Italia Navale)
Flag: Italia

DUNIA dikejutkan dengan tragedi kapal pesiar Costa Concordia yang karam akibat menabrak gugusan karang di perairan Pulau Giglio, Italia. Yuk, intip sedikit kapal pesiar mewat yang disebut-sebut Titanic modern ini.

Costa Concordia adalah sebuah kapal pesiar kelas Concordia yang dimiliki dan dioperasikan oleh Costa Cruises, di bawah pengawasan American Carnival Corporation & Plc. Kapal ini dibuat di Italia, tepatnya di bengkel kapal Fincantieri di distrik industri Sestri Ponente. Nama Concordia berarti "melanjutkan harmoni, kesatuan, dan damai diantara negara-negara Eropa". Demikian seperti dilansir Costacruise, Senin (16/1/2012).

Kapal pesiar Costa Concordia merupakan kapal pertama di kelas Concordia, dengan kapal lain di bawahnya, yaitu Costa Serena, Costa Pacifica, Costa Favolosa, Costa Fascinosa, dan Carnival Splendor. Kapal ini mulai beroperasi pada Juli 2006 dan merupakan kapal terbesar yang pernah dibuat di Italia.

Kapal memiliki panjang 290,20 meter, dengan tinggi 35,50 meter, dan didorong oleh enam mesin diesel Wartsila yang berkekuatan 75.600 kilowatt. Mesin dapat mendorong kapal dengan kecepatan 36,3 kilometer per jam.

Kapal pesiar memiliki 1.500 kabin, 505 balkon pribadi, dan 55 jalur akses pribadi ke fasilitas Spa Samsara, di mana 58 kamar suite memiliki balkon pribadi dan 12 diantaranya memiliki akses pribadi ke fasilitas spa. Costa Concordia memiliki fasilitas kebugaran terbesar, dengan Samsara Spa yang berada di dua lantai berukuran 6.000 meter persegi.

Ada pula fasilitas gym, kolam thalassotherapy, sauna, pemandian ala Turki, dan solarium. Kapal juga memiliki empat kolam renang, lima jacuzzi, dan lima buah tempat spa. Secara keseluruhan, Costa Concordia dapat memuat hingga 3.000 penumpang.

Belum cukup mewah, kapal pesiar ini memiliki lima buah restoran, 13 bar, termasuk cigar, cognac, kopi, dan bar. Fasilitas hiburannya, termasuk tiga level teater, kasino, dan sebuah diskotik. Ada pula area anak-anak yang dilengkapi produk playstation. Kapal ini juga memiliki sebuah simulator balap motor Grand Prix dan sebuah kafe internet.

Kapal bernilai USD600 juta ini berlayar di sekitar laut Mediterania setiap tahunnya, selama tujuh hari sekali pelayaran. Untuk kamar kelas ekonomi penumpang dewasa harus membayar sebesar 599 euro (sekira Rp7 juta) per malam sedangkan kelas suite dihargai 1229 euro (sekira Rp14 juta) per malam. Kapal ini juga menyediakan fasilitas untuk orang dengan keterbatasan fisik berupa 15 kursi roda dan 14 lift penumpang.

Sebelum insiden beberapa hari ini, Costa Concordia pernah mengalami kerusakan pada haluannya ketika terjadi angin kencang di Kota Palermo, Sisilia, dan mendorong kapal hingga menabrak dermaga. Untungnya, tidak ada korban luka atau tewas dan perbaikan kapal langsung dilaksanakan saat itu juga.


Konsep dan pembangunan

Kapal yang saat itu belum bernama dipesan pada tanggal 19 Januari 2004 di Fincantieri dan dibangun di galangan Sestri Ponente di Genoa[3] dengan nomor galangan 6122.[10] Kapal ini diluncurkan di Sestri Ponente pada tanggal 2 September 2005,[11] dan pada waktu pembangunannya merupakan kapal pesiar Italia terbesar yang pernah dibangun. Kapal ini dipindahtangankan ke Costa pada tanggal 30 Juni 2006.

Deskripsi
Costa Concordia memiliki panjang 29.020 m (95.210 ft 0 in), dengan lebar 3.550 m (11.647 ft 0 in) dan daya muat 820 m (2.690 ft 3 in). Kapal ini dilengkapi enam mesin diesel Wärtsilä berkekuatan 75.600 kilowatt (101,400 hp
yang dapat mendorongnya dengan kecepatan 196 knot (363 km/j).

Perlengkapan

Costa Concordia memiliki 1.500 kabin; 505 kabin memiliki balkon pribadi dan 55 di antaranya memiliki akses langsung ke Samsara Spa; 58 suite memiliki balkon pribadi dan 12 di antaranya memiliki akses langsung ke spa. Costa Concordia mempunyai salah satu area fasilitas olahraga tengah laut terbesar di dunia, yaitu Samsara Spa, sebuah pusat kebugaran dua tingkat seluas 6.000 m (20,000 kaki) yang dilengkapi gimnasium, kolam thalassoterapi, sauna, pemandian Turki dan solarium.Kapal ini mempunyai empat kolam renang, dua di antaranya dilengkapi penutup mekanik, lima spa, dan kaca tepi kolam di dek kolam.

Ada lima restoran di dalam kapal, termasuk Club Concordia dan Samsara yang hanya melayani pemesanan makanan. Ada 13 bar, termasuk sebuah bar rokok dan cognac dan bar kopi dan cokelat.

Pilihan hiburannya meliputi sebuah teater tiga tingkat, kasino, dan diskotik. Ada pula kawasan bermain anak-anak yang dilengkapi produk-produk PlayStation. Kapal ini mempunyai sebuah simulator balap motor Grand Prix dan kafe Internet.





















 
FASILITAS


















FOTO - FOTO KECELAKAANYA

















GENERAL SERVICE SYSTEM



A.   PENDAHULUAN  
General service system merupakan salah satu kebutuhan yang harus terpenuhi dan harus terdapat pada suatu kapal.  General service sendiri terbagi atas beberapa bagian, yaitu Sistem bilga (Bilge System), Sistem balas (Ballast System), dan Sistem pemadam kebakaran (Fire Main System). Dari beberapa sistem tersebut selain menggunakan general service juga terdapat pompa utama yang melayani kebutuhan untuk hal tersebut. Ada 2 hal yang utama dalam penentuan spesifikasi kebutuhan tersebut. Hal pertama yaitu pemilihan pipa.  Di dalam melakukan pemilihan pipa banyak sekali hal yang harus dipertimbangkan baik itu pemilihan dari segi material pipa yang nantinya berhubungan dengan tingkat kekorosifitas terhadap fluida kerja, pemilihan ketebalan pipa yang sesuai dimana nantinya berhubungan dengan stress pipa, pemilihan schedule pipa yang disesuaikan dengan tekanan dan temperatur dari fluida kerja, serta standard pipa yang direkomendasikan oleh Rules & Regulation yang dipilih.
            Pada bab ini akan dijelaskan pengertian dari sistem bilga, sistem balas, dan sistem pemadam kebakaran secara lebih dalam mulai dari pengertian umum dari masing-masing sistem, arrangement dari sistem yang disesuaikan dengan rules & regulation, serta  pengertian lanjut yang diambil dari beberapa sumber.

B.    SISTEM BILGA (BILGE SYSTEM)
B.1. SISTEM BILGA (BILGE SYSTEM)
B.1.1 Pengertian Umum
Sistem bilga merupakan sebuah sistem yang ada pada kapal dimana sistem bilga memiliki fungsi utama sebagai sistem keselamatan pada kapal. Pompa bilga menyediakan kebutuhan emergency / darurat untuk menguras (dewatering) dari seluruh kompartement kedap air, kecuali pada tanki balas (ballast), oil tank, dan tangki air tawar yang independen. Maksud dari independen ialah tanki yang dapat diisi dan dikosongkan.
Pada sistem bilga terdiri dari dua buah sistem yaitu, sistem bilga dan sistem bilga di kamar mesin. Kedua sistem tersebut diinstall secara terpisah satu sama lain. Hal itu dikarenakan fluida kerja yang digunakan berbeda, untuk sistem bilga di kamar mesin fluida kerja yang digunakan berupa minyak , atau minyak yang bercampur dengan air sedangkan pada sistem bilga, fluida kerja yang digunakan berupa air saja.
Jumlah dan kapasitas dari pompa bilga ditentukan berdasarkan dari ukuran kapal, tipe kapal dan fungsi dari kapal itu. Untuk jumlah dari pompa bilga minimal harus tersedia 2 buah pompa. Selain itu, salah satu dari pompa bilga juga dapat melayani sistem-sistem yang lain (general service systems) seperti sistem balas, sistem pemadam kebakaran, atau seawater cooling. Serta minimal harus tersedia satu buah pompa bilga yang selalu tersedia untuk memompa bilga. Penempatan pompa bilga juga harus dipertimbangkan, penempatan pompa bilga berada pada ruang kedap yang tepisah, karena hal itu menjaga agar ketika terjadi flooding pompa masih bisa dioperasikan.
Salah satu hal yang penting lagi ialah pada sisi suction. Jumlah dari sisi suction harus mencukupi agar proses dewatering dapat dilakukan dalam segala kondisi hingga kondisi yang paling terburuk  (gbr.1) dan suction harus dilokasikan pada sisi terendah dari ruangan (gbr.1).



Gbr.1 Kondisi kapal normal vs Flooding
Terlihat pada gambar 1. Bahwa sistem bilga harus mampu beroperasi walau kapal dalam keaadaan terburuk yaitu flooding dimana kondisi air telah masuk  pada salah satu kompartmen. Sesuai dengan gambar di atas , hal yang harus diperhatikan didalam mendesain sistem bilga, ialah pada pemilihan pompa dilakukan. Dimana pompa harus mampu head yang muncul apabila kapal mengalami flooding. Tidak lupa pada setiap suction harus disediakan strainer yang berfungsi untuk menyaring kotoran-kotoran yang bercampur dengan air ketika kapal mengalami flooding. Strainer harus terpasang se-efisien mungkin,, dimana nantinya strainer dapat diakses dan dilakukan pembersihan dengan mudah dari top plate
Pompa bilga secara normal, menguras kompartemen dan membuang secara langsung menuju overboard . Oleh karena itu, ketika pompa bilga digunakan untuk melayani sistem lain, katup (valves) harus disediakan sehingga pompa bilga dapat terisolasi dari sistem lain yang terhubung dengan sistem bilga.

B.1.2. Dasar Perhitungan
            Perhitungan-perhitungan sistem bilga pada kapal ini berdasarkan pada Bureau Veritas Rules & regulation. Part C. Chapter 1 section 10.
1.    Kapasitas Pompa

Q min =5.66 d2 x 10-3     ; (m3/hr)    
(Class LR, Part C, Chapter 1, Sec 10, hal :162 : 6.7.4)
                       
Dimana,
Q         = Kapasitas minimum pompa bilga          (m3/h)
d          = Diameter dalam pipa bilga                      (mm)
 perihal yang disyaratkan :
-       kecepatan aliran pada pompa bilga untuk memompakan air melalui pipa tidak boleh kurang dari 1 m/s dan tidak boleh lebih dari 3 m/s
-       untuk pemilihan pompa bilga diharuskan self-priming type dengan jenis pompa sentrifugal

2.    Diameter Pipa
a)    Diameter Pipa utama bilga
(Class LR,Part C, Chapter 1, Sec 10, hal 163 : 6.8.1)
Dimana,
d          = Diameter dalam pipa utama bilga   (mm)
L          = Rule length of ship               (m)
B          = Breadth Moulded                             (m)
D         = Tinggi geladak                                 (m)

b)    Diameter Pipa Cabang Bilga
d1 = 2,16√ L1 x ( B + D) + 25
(Class LR, Part C, Chapter 1, Sec 10, hal :163 : 6.8.3)
Dimana,
d1        = Diameter dalam pipa cabang bilga              (mm)
C          = Panjang Kompartment                                (m)

3.    Bilge Well
Ukuran dari bilge well harus mampu menampung air dengan kapasitas tidak boleh kurang dari 0,15 m3

B.1.2. SISTEM BILGA DI KAMAR MESIN (OILY-BILGE SYSTEM)
Sistem bilga dikamar mesin merupakan sebuah sistem yang harus mampu menggabungkan dan membuang oily-waste dan waste-oil yang terkumpul di kamar mesin. Kata oily-waste merujuk kepada air yang tercampur dengan minyak dimana kandungan dari air mendominasi campuran. Sedangkan waste-oil sebaliknya, waste-oil merujuk kepada air yang tercampur dengan minyak dimana kandungan dari minyak mendominasi campuran. Perlu diperhatikan kedua jenis tersebut (oily-waste & waste oil) tidak bisa langsung dibuang menuju overboard, dikarenakan kedua fluida tersebut regulation menetapkan keduanya dapat menyebabkan air dapat tercemar.
Sistem bilga di kamar mesin, selalu terpisah dengan sistem bilga dengan tujuan untuk menghindari agar oli tidak terkontaminasi dengan sistem perpipaan pada sistem bilga, dimana oli dapat mengganggu jalannya pembuangan sistem bilga menuju overboard. Cairan yang terkumpul di kamar mesin dikumpulkan pada bilge-well di kamar mesin.
Sistem kerja dari bilga di kamar mesin ialah sebagai berikut :
1.    Oily-waste yang terkumpul di bilge well di alirkan terlebih dulu menuju oily-waste collecting tank.
2.    Setelah terkumpul di oily-waste collecting tank, oily-waste kemudian di proses dengan menggunakan Oily water separator (OWS). Dimana sistem kerja dari OWS memisahkan air dengan oli yang terkumpul di oily waste collecting tank hingga oily-waste sudah masuk dalam kategori dapat dibuang menuju overboard.
3.    Alat untuk mengukur kandungan oily-waste agar dapat dibuang menuju overboard dinamakan oil content monitor (OCM). Sistem kerja dari OCM cukup sederhana, apabila kandungan dari oily-waste kurang dari batasan OCM, maka oily-waste langsung dibuang menuju overboard. Sedangkan apabila, oily-waste memiliki kandungan melampaui batas dari OCM maka oily waste dialirkan menuju waste-oil collecting tank.
4.    Aliran dari OCM menuju Waste-Oil Collecting Tank, dialirkan secara terpisah. Untuk Oli menuju ke tempat penyimpanan yaitu waste oil collecting tank. Sedangkan air akan menuju ke oily-waste collecting tank.
Kedua collecting tank (oily-waste & waste-oil) harus disediakan sistem perpipaan menuju shore connection baik itu di portside / starboard

C.    SISTEM  BALAS (BALLAST SYSTEM)
Sistem bilga dan sistem balas memiliki fungsi yang jelas dimana sistem bilga berfungsi sebagai sistem pengurasan compartment apabila kapal mengalami flooding (ship safety). sedangkan sistem balas berfungsi untuk mengatur kestabilitasan kapal ketika kapal dalam keadaan trim /draft dengan cara mengisi atau mengosongkan tangki balas yang tersedia.
Pertimbangan-pertimbangan yang yang dilakukan pada sistem balas ini berupa kapasitas  dari pompa balas yang diatur berdasarkan lama waktu dari bongkar muat (loading unloading), kemudian pengaturan pengisian dan pengkosongan tanki balas terhadap sarat air pada terminal.
Untuk sistem perpipaan dari sistem balas hamper sama dengan sistem bilga,letak perbedaannya pada sistem balas tidak memerlukan check valve pengaturan sistem perpipaan  diatur sedemikian rupa sehingga sewaktu-waktu balas dapat dipindahkan dari tanki satu dengan yang lain serta mampu mengisi dan mengosongkan tanki dengan air laut. 
Tanki balas dan sistem perpipaannya sepenuhnya terpisah dari cargo oil tank, dengan tujuan untuk menghilangkan kemungkinan bercampurnya oli ketika debalasting (proses pengosongan tangki balas). Pompa balas, diletakkan di pump room, dan disusun agar suction tersambungkan dengan kedua seachest. Serta harus disediakan bypass agar proses ballasting (proses pengisian tangki balas) secara gravitasi.

D.    SISTEM PEMADAM KEBAKARAN (FIRE MAIN SYSTEM)
Sistem pemadam kebakaran (fire main system) menyuplai air laut pada tekanan tinggi menuju kapal. Air laut, merupakan salah satu alat pemadam kebakaran pada kapal yang memiliki suplai yang sangat besar, air laut dapat diaplikasikan secara stream atau spray yang disesuaikan dengan kondisi kebakaran yang terjadi dan air laut merupakan alat pendingin dimana dapat menghalangi material yang mudah terbakar untuk melakukan reflashing, memperlambat penyebaran api di kapal, serta memproteksi personil pemadam kebakaran.
Komponen utama pada sistem pemadam kebakaran (fire main system) ialah sebuah pompa sentrifugal yang dioperasikan pada tekanan yang tinggi untuk menghasilkan penyebaran air yang efektif baik itu secara streaming, penetration, dan spray. Komponen utama lain ialah rancangan sistem perpipaan pada kapal.  Kesemua komponen yang terdapat pada sistem pemadam kebakaran didesain berdasarkan ukuran kapal, tipe kapal, serta fungsi dari kapal itu sendiri.
Aplikasi dari sistem perpipaan pada umumnya didesain secara tidak langsung untuk perlindungan terhadap kebakaran dan harus dipastikan bahwa sistem ini dapat beroperasi ketika keadaan darurat dengan susunan pompa dan katup yang sederhana. Pompa pemadam kebakaran juga dapat digunakan untuk melayani sistem lain seperti bilga, balas dan seawater cooling tetapi harus diperhatikan bahwa pompa pemadam kebakaran harus disediakan minimal satu buah pompa disediakan agar sewaktu waktu dapat digunakan. Pompa pemadam kebakaran tidak boleh disambungkan dengan segala macam oil pipping. Untuk penggabungan sistem perpipaan dari sistem bilga diijinkan tetapi hanya untuk emergency dewatering.
Minimal, dua buah pompa pemadam kebakaran harus disediakan. Perencanaan pelatakan pompa pemadam kebakaran diletakkan bersamaan dengan lokasi sumber air yaitu seachest ataupun sumber daya untuk menggerakkan pompa. Hal ini ditujukan untuk memastikan bahwa pompa dapat beroperasi.
Secara umum kebutuhan kapasitas setiap pompa pemadam kebakaran harus mencangkup 2 kriteria yaitu berdasar minimum flow rate berdasar ukuran kapal dan kapasitas masing-masing pompa harus mencukupi kebutuhan dari hose stream ketika pompa mensuplai kebutuhan selain pemadam kebakaran. Untuk kapasitas kedua buah pompa, harus mencukupi  kebutuhan dari hose stream, ketika pompa pemadam kebakaran mensuplai sprinkle system.
Untuk head dari pompa harus cukup dengan tekanan minimal 50 psi untuk kapal non-tanker dan 75 psi untuk kapal tanker. Head pompa pemadam kebakaran juga harus mampu mensuplai menuju high fireplugs  di tempat tertinggi dari superstructure. Untuk letak dari fireplugs harus diletakkan ditempat dimana dapat diakses dengan mudah  oleh crew ketika dalam kapal sedang beroperasi, dengan jarak minimal 50 ft.
Untuk membantu kinerja dari sistem pemadam kebakaran , fixed fire-extinguisher systems harus terpasang sesuai dengan jenis-jenis kebakaran. Antara lain Foam systems, Halon Systems, Carbon-dioxide systems, Sea water sprinkling systems.

PENGERJAAN REPARASI


1.      Pembersihan dan Pengecatan Badan Kapal
a.      Pembersihan Badan Kapal
Sebelum dilakukan reparasi badan kapal dibersihkan dulu dari binatang dan tumbuhan laut yang menempel pada pelat badan kapal. Peralatan yang digunakan antara lain : sekrap besar dan kecil, tangga kayu, unit blasting, pasir blasting, air tawar. Pembersihan dimulai dengan mensekrap sampai binatang dan tumbuhan laut terlepas dari pelat badan kapal. Dilanjutkan dengan sandblasting kemudian dibersihkan dengan menyemprotkan air tawar dan dikeringkan.
§  Blasting
Blasting merupakan suatu metode pembersihan permukaan benda kerja dengan cara menyemprotkan pasir (steel grade) bertekanan tinggi ke benda kerja.
Jenis-jenis pasir yang digunakan adalah :
-            Pasir silika / kwarsa : Satu kali pakai
-            Steel great : Bisa dipakai berulang-ulang
-            Overslag : bisa dipakai 2 kali, yang pertama untuk menghilangkan cat sedangkan yang kedua untuk meratakan.
-            Streal plate

Alat-alat utama yang digunakan untuk blasting adalah:
1.         Compressor sebagai media utama untuk penekanan udara.
2.         Tandon angin sebagai tempat untuk penyimpanan angin.
3.         Separator sebagai alat untuk menyaring udara dari minyak dan air
4.         Pot Blast sebagai tangki untuk menyimpan pasir (steel grade)
5.         Selang Blasting (blast hawse)
6.         Nozle.
Sedangkan tools pendukung lain yakni:
1.         Valve (katub-katub)
2.         Holder (Ditempatkan antara nozzle dan blast hose)
3.         T - Pipe (pencampuran angin dengan pasir)
4.         Kopling (sambungan selang)
Alat keselamatan kerja untuk proses blasting adalah
1.         APD (Alat Pelindung Diri) standart
2.         Respirator (alat Bantu pernafasan)
3.         Depment valve (katub yang dioperasikan langsung oleh blaster)

           

Gambar 4.6.1 Proses Blasting

b.      Pengecatan Badan Kapal.
Pengecatan badan kapal dapat dilakukan dengan kuas cat, roller maupun unit semprot cat sesuai dengan tingkat daerah kesulitan pengecatan. Jenis cat yang digunakan adalah : cat dasar, cat AC ( anti corrosive/anti karat ) dan cat AF ( anti folling/anti binatang atau tumbuhan laut ). Pengecatan dilakukan setelah badan kapal selesai diblasting. Sebelum dicat, badan kapal harus benar-benar bersih dari debu atau sejenisnya. Karena apabila masih ada debu yang menempel kemudian dicat akan menimbulkan kondensasi yang lama kelamaan akan menyebabkan munculnya blistering ( lubang-lubang kecil karena catnya terkelupas ). Badan kapal dibagi menjadi 3 bagian, yaitu bagian bottom ( bagian yang tercelup air), bottop, dan bagian top side. Urutan pengerjaan coating pada masing – masing bagian berbeda-beda.
Untuk bagian bottom urutannya, yaitu :
-          Pembersihan binatang laut yang menempel pada badan kapal dengan cara di scrub.
-          Setelah itu badan kapal dicuci menggunakan air tawar dengan tujuan untuk mengurangi kadar garam.
-          Kemudian dilakukan sand blasting. Sand blasting ini dibedakan menjadi 2 yaitu full blast dan sweep spot. Full blast semua pelat di blasting sampai cat pada pelat terkelupas, sedangkan sweep spot di blasting hanya pada bagian yang berkarat dan bagian yang tidak berkarat cukup di sweep saja. Untuk proses sweep spot lapisan AC (Anti Corrosion ) pada cat sebelumnya harus terkelupas agar cat primer bisa menempel pada pelat.
-          Setelah dilakukan blasting langkah selanjutnya adalah pengecetan pada badan kapal dengan cat primer atau disebut lapisan AC ( Anti corrosion ) lapis pertama dengan ketebalan kurang lebih 150 mikron.
-          Setelah itu dicat dengan menggunakan sealer atau disebut lapisan AC lapis ke dua dengan ketebalan kurang lebih 100 mikron.
-          Kemudian di cat dengan AF ( Anti Foulling ) lapis pertama
-          Langkah terakhir adalah pemberian AF ( Anti Foulling ) lapis kedua. Pemberian Anti folling ini bertujuan untuk mengurangi binatang laut yang menempel pada badan kapal.
 
Gambar 4.6.2 Proses Pengecatan
            Untuk pengecatan pada bagian boottop, langkah-langkahnya sama dengan pengecatan pada bagian bottom. Dalam pengecatan, daerah ini merupakan daerah yang kritis karena pada daerah ini kadang tercelup air ( saat muatan penuh ) dan kadang tidak tercelup air ( saat muatan kosong ), jadi pemberian AFnya tidak konvensional melainkan menggunakan self polishing. Sedangkan pada bagian top side langkah-langkahnya juga sama, namun pada daerah ini tidak perlu di cat AF karena pada bagian ini tidak tercelup  air.
Hal – hal yang perlu diperhatikan dalam coating :
-       Campuran cat.
Campuran cat menggunakan 2 komponen yaitu base (cat itu sendiri) dan pengeras, namun ada juga yang menggunakan satu komponen ( rubber )
-       Interval antara langkah satu dengan langkah berikutnya antara 4 jam – 3 hari.
-       Kelembaban.
Batas maksimal kelembaban kurang lebih 85%
-       Dry – wet
-       Suhu pelat
-       Suhu udara
-       Dew point ( selisih antara suhu pelat dengan suhu udara ) maksimal 3o C
-       Tekanan ideal yang digunakan kurang lebih 7,5 kg/cm3
-       Tebal pengecatan minimal 400 mikron (dengan alat ukur elcometer)


Gambar 4.6.3 Elcometer

2.      Pemeriksaan dan Pemotongan Pelat Badan Kapal.
a.      Pemeriksaan Tebal Pelat
Sebelum dilakukan pengetesan tebal kulit, ditentukan terlebih dahulu titik-titk yang dicurigai mengalami pengurangan ketebalan dengan menggunakan palu ketok. Kemudian disediakan alat yang akan digunakan anatar lain : Unit Ultrasonic Test, gerinda, paselin, palu dan tangga. Untuk mempermudah pekerjaan dibantu dengan gambar rencana umum dan gambar kerja (Bukaan kulit lambung) untuk meletakkan titik-titik yang akan diuji ketebalannya. Titik-titik uji yang telah ditentukan digerinda sampai terlihat warna pelat aslinya. Kemudian dipaselin untuk mencegah karat. Pekerjaan selanjutnya dengan bantuan unit ultrasonic test, tester pada bagian yang telah digerinda dengan cara menempelkan kabel dari alat tersebut pada titik uji. Maka jarum skala akan menunjukkan skala ketebalan pelat dalam satuan milimeter. Setelah diketahui ketebalannya kita bandingkan dengan tebal pelat semula. Apabila tebal pelat setelah diuji ketebalannya berkurang >20% dari tebal pelat semula, maka perlu dilakukan replating.
Gambar 4.6.4 Pemeriksaan tebal pelat
b.    Pemotongan Pelat Badan Kapal
      Kulit lambung dipotong untuk diganti dengan pelat baru karena dideteksi pelat lama terdapat pengurangan ketebalan sehingga melebihi batas toleransi class. Peralatan yang digunakan antara lain : mesin las listrik, palu ketok, kapur tulis, tackle, mesin brander potong, dan material pelat pengganti. Proses pengerjaannya dengan bagian kulit yang akan dipotong diberi tanda (digambar pada pelat yang akan dipotong) dengan kapur tulis sebagai batas penanda untuk alur pemotongan pelat. Masing-masing bagian dilakukan pemotongan sesuai alur dari frame/gading tempat pemotongan.
Pemotongan pelat yang akan diganti dilakukan dengan menggunakan alat yang dihubungkan pada sebuah regulator dan terhubung ke tabung yang berisi gas elpiji.Jadi pada alat tersebut terdapat 2 buah kabel berwarna merah dan hijau, kabel berwarna merah mengalirkan gas elpiji sedangkan yang berwarna hijau mengalirkan gas oksigen. Cara kerjanya memanfaatkan tekanan gas elpiji yang keluar dengan campuran gas oksigen
Perlu diperhatikan pada saat pemotongan pelat sekitar frame. Karena panas dari brander potong dapat mengakibatkan kerusakan pada frame. Setelah pelat dipotong bagian permukaan sisa-sisa yang kasar dihaluskan dengan gerinda.

Gambar 4.6.5 Pemotongan pelat badan kapal
c.       Penggantian Pelat Badan Kapal
Pelat yang diganti adalah pelat dengan tebal dibawah 80% dari tebal semula. Proses pengerjaannya adalah :
1.   Pelat dibersihkan dengan sand blasting.
            2.   Untuk pelat yang tipis dan tidak merata dilas dan digerinda sampai permukaannya rata dengan permukaan sekitarnya.
3.      Untuk pelat yang tipis dan merata dipotong pada bagian tersebut dengan menggunakan las potong sesuai gambar bukaan kulit.
4.      Untuk menggantinya dipasang pelat dengan ketebalan yang sama dengan tebal pelat asal dengan mengelaskan pada bagian pelat yang dipotong.

Gambar 4.6.6 Penggantian pelat badan kapal

3.      Pemeriksaan dan Pemeliharaan Peralatan di Bawah Garis Air.
a.      Propeler
§  Melepas Propeler
Peralatan yang dipakai : Mesin brander besar, Hammer besar,kunci pas besar, bul-bul, tackle, paju dari kayu, pelat tebal dengan ukuran tertentu.
Proses pengerjaan:
1.      Membuat paju dan memasang pelat tebal, tackle dan baut pada propeler.
2.      Memasang paju pada pelat tebal.
3.      Pelat tebal ditekan sekeras mungkin dengan mengeraskan baut.
4.      Paju dipukul sampai masuk.
5.      Propeler akan lepas dengan sendirinya dan diangkat dengan tackle.
6.      Jika diperlukan dilakukan pemanasan setempat di sela daun propeler.

§  Pelepasan Poros Propeler
Poros yang telah lama digunakan harus dirawat, untuk itu poros tersebut harus dilepas dulu dari dudukannya untuk dibawa ke bengkel mekanik dan dilakukan perawatan. Sebelum dilepas gap antara poros dengan liner diukur terlebih dahulu dengan menggunakan alat yang dinamakan wear down gap. Selisih antara gap awal dengan gap setelah pengukuran maksimal 3mm. Apabila lebih dari 3 mm, maka perlu direpair atau diganti. Peralatan yang digunakan untuk melepas propeler antara lain : Majun kaos, hoist/tackle crane 5 ton, gantry crane 25 ton, kawat baja diameter 35 mm, tangga bantu.
Proses pengerjaan :
1.      Hoist dipasang pada bul-bul/kupingan di buritan dengan posisi di sebelah belakang, kanan dan kiri.
2.      Tali baja diikat simpul pada poros propeler yang terlihat, dihubungkan dengan masing-masing rantai hoist.
3.      Hoist di belakang dikeraskan sehingga secara perlahan poros tertarik keluar dari stern tube-nya.
4.      Poros diangkat perlahan ke lantai dok dengan diberi bantalan balok kayu, lalu diangkat dengan gantry crane ke bengkel mekanik.
Selain perawatan pada poros biasanya juga dilakukan pengecekan seal. Apabila seal telah aus, maka seal tersebut akan diganti.

Gambar 4.6.7 Pelepasan propeller dan poros propeller

Gambar 4.6.8 Wear down gap

§  Pemeriksaan Kelurusan Poros Propeler
Untuk pemeriksaan poros propeler digunakan mesin bubut yang telah dirangkai dengan batang penunjuk pada eretan memanjang. Poros propeler dipasang  pada mesin bubut. Saat mesin dihidupkan eretan memanjang beserta batang penunjuk bergerak sepanjang poros. Batang penunjuk yang ujungnya dipasang dengan permukaan poros akan menyentuh poros jika poros tidak rata permukaannya atau melengkung pada diameter yang tetap.
Untuk meluruskan kembali poros propeler yang bengkok dilakukan dengan mengepress dengan mesin press pada bagian yang melengkung cembung sampai lurus kembali. Dapat juga dilakukan dengan pengelasan setempat kemudian dibubut sampai permukaannya rata kembali dengan permukaan yang tidak bengkok, halus dan diametern6ya sesuai dengan yang diharapkan.
§  Pengujian Colour Check/ MPT
Dilakukan untuk mengetahui keretakan yang mungkin terjadi pada shaft/poros propeler.
Proses pengerjaan :
1.      Poros propeler dibersihkan dari oli dan kotoran dengan memakai cleaner dan dibiarkan sampai kering.
2.      Poros yang telah bersih disemprot dengan cat penetrant berwarna merah dan didiamkan beberapa saat agart bila ada kemungkinan terjadi keretakan, penetrant dapat meresap. Kemudian dilap sampai bersih/tidak berbekas.
3.      Disemprot developer berwarna putih, setelah kering kemudian diperiksa. Jika terdapat bekas bercak/garis berwarna merah berarti ada keretakan pada poros propeler.

§  Balancing Propeler
Dilakukan untuk memastikan bahwa masing-masing daun propeler sama agar gaya yang dihasilkan oleh propeler dapat optimal.

Proses pengerjaan :
1.      Membuat poros sesuai dengan poros sebenarnya (diameternya sama).
2.      Menandai masing-masing daun propeler (dengan nomor atau angka).
3.      Memasang propeler pada poros propeler.
4.      Memasang poros dan propelernya pada mesin balancing.
5.      Memutar dan mengamati poros dan propeler.
6.      Daun propeler yang beratnya tidak sama saat berputar daun propeler yang terbertat akan selau berhenti di bawah. Jika terjadi hal demikian daun propeler yang terberat digerinda merata dan balancing lagi sampai didapat berat masing-masing daun propeler sama.
7.      Hal yang sama untuk daun propeler yang dominan paling ringan, dilas dulu kemudian digerinda sampai beratnya sama.
§  Pemasangan Propeler
Peralatan yang digunakan : hoist, tali baja, hammer, kunci L, kunci pas baut propeler, brander potong, kunci ring.
Proses pengerjaan :
1.      Tali baja diikat pada propeler dan ditarik menuju poros propeler.
2.      Dengan hoist, propeler diletakkan pada tepat pada lubang dengan poros.
3.      Propeler ditarik sampai terpasang dengan baik pada porosnya, demikian juga dengan pasek/spee-nya.
4.      Poros didorong sampai ujung poros masuk ke dalam boss propeler.
5.      Propeler di tarik masuk dengan menggunakan crane tackle selain dengan dorongan para pekerja sampai propeler terpasang secara keseluruhan.
6.      Dipasang ring shield dan rubber gasket di luar dan di dalam badan kapal untuk menjaga kekedapan sambungan boss poros dengan ujung poros.
7.      Baut dipasang dan dikuatkan dengan memasang baut-baut penguatnya dan dikuatkan lagi dengan mengikat bonet penutup propeller dengan baut pengikatnya sebanyak 10 buah.
Gambar 4.6.9 Pemasangan propeller

b.      Daun Kemudi
§  Melepas Daun Kemudi
Proses pengerjaan :
1.      Memasang bul-bul pada sisi-sisi daun kemudi dengan dilas.
2.      Memecah seman penutup baut dengan palu.
3.      Melepas baut-baut baik yang di luar maupun yang ada didalam badan kapal, jika perlu, dilakukan pemanasan terlebih dahulu dengan brander potong untuk memudahkannya.
4.      Daun kemudi diangkat sedikit untuk melepaskan sole piece.
5.      Daun kemudi digeser dan diturunkan dengan perlahan-lahan.
6.      Daun kemudi di bawa ke bengkel mekanik untuk mendapatkan perawatan dan pemeliharaan.

§  Memasang Daun Kemudi
Sebelum dipasang pada tempatnya, daun kemudi terlebih dahulu di periksa apakah masih layak pakai atau tidak, jika sudah tidak layak apakah harus diganti atau hanya perlu diperbaiki saja.
Proses pengerjaan :
1.      Memasang 2 kupingan (bul-bul) pada buritan kapal dan 2 buah lagi pada sisi kanan dan kiri daun kemudi.
2.      Memasang hoist pada masing-masing kupingan.
3.      Menempatkan poros kemudi pada lubang sole piece dan menjaga posisi daun kemudi tetap tegak.
4.      Memasang baut-baut pada flens poros dan menguatkannya dengan mengelaskan pelat pada masing-masing barisan baut flens kemudi kiri dan kanan.

Gambar 4.6.10 Pemasangan daun kemudi
c.       Pemasangan Zinc Anode
Peralatan yang dipakai anatar lain : alat ukur/meteran, kapur tulis, zinc anode, dan mesin las. Pemasangan zinc anode pada bagian kapal yang tercelup didalam air laut dimaksudkan untuk mengurangi korosi yang terjadi di sekitar daerah yang dipasangi zinc anode. Hal ini disebabkan zinc anode mampu mengelektrolisis air laut. Sehingga proses pengkaratan badan kapal dapat diperlambat. Jarak pemasangan zinc anode pada arah memanjang kapal disekitar lambung  ± 6,5 meter dan arah vertikal ± 4 meter. Untuk pemasangan pada daun kemudi dipasang secukupnya (± 4 buah ).

Gambar 4.6.11 Pemasangan zinc anode
4.      Pemeriksaan Hasil Las-lasan ( tes kekedapan )
¨      Menggunakan Kapur dan Solar.
Sepanjang hasil lasan bagian luar diolesi dengan kapur dan bagian dalam diolesi solar. Setelah ditunggu beberapa saat jika kapur tetap kering dan berwarna putih, berarti hasil lasan baik. Tetapi jika kapur terdapat bercak-bercak solar, berarti hasil lasan terdapat retak/penetrasinya kurang baik. Jika terjadi hal yang demikian maka hasil lasan harus digouging dan dilakukan pengelasan kembali.
¨      Menggunakan Air Bertekanan.
Sambungan las/alur las bagian luar disemprot dengan air bertekanan ± 7 kg/cm² dan pengecekan dilakukan pada bagian dalam. Jika sambuangan las baik, maka tidak akan terjadi perembesan dibalik lasan. Test ini biasanya dilakukan pada bangunan baru.
¨      Menggunakan Udara Bertekanan.
Tangki dikosongkan, ditutup dan dialirkan udara bertekanan kedalamnya sampai tekanan tertentu ( 2 kg/cm² ). Memasang manometer agar diketahui tekanan udara didalamnya dan untuk mempertahankan tekanan udara tersebut sampai pengujian selesai. Pada bagian luar tangki, pada alur lasan diolesi dengan cairan detergen/sabun. Jika terjadi gelembung-gelembung sabun pada permukaan lasan, berarti hasil lasan tidak baik ( tidak kedap ). Sehingga harus digouging untuk selanjutnya dilas kembali. Jika tidak terdapat gelembung, maka hasil lasan baik ( kedap air ).
5.        Pemasangan rantai jangkar
Mula-mula rantai jangkar diturunkan ke graving dock dengan crane, setelah itu jangkar dipasangkan dengan cara melepas keling yang digunakan untuk menyambungkan rantai. Setelah jangkar terpasang keling tersebut dipasang lagi disusul dengan pemberian material timah yang bertujuan untuk mencegah karat pada keeling. Setelah semuanya selesai jangkar kemudian dinaikkan.
Gambar 4.6.12 Pemasangan rantai jangkar
6.        Pemeriksaan Kelisttrikan Kapal
Pemeriksaan kelistrikan kapal dilakukan agar penyuplaian listrik pada kapal selalu tersedia saat kapal berlabuh, bongkar muat , manuvering dan yang lainnya. Untuk memastikan agar  tetap berfungsi dan mencukupi dalam penyediaan listrik pada saat kegiatan tersebut dilakukan memeriksa peralatan kelistrikan pada kapal dan instalasinya baik generator, emergency generator, motor listrik, dan saluran kabel-kabel pada kapal atau yang lainnya  dengan memperbaiki atau mengganti bagian-bagian yang rusak.
7.        Pemeriksaan Perpipaan Pada Kapal
Pemeriksaan pipa dilakukan untuk menjaga agar pipa saat menyalurkan cairan berfungsi dengan baik. Pemeriksaan pipa kebanyakan dilakukan secara visual, pemeriksaan visual dilakukan dengan memastikan apakah pipa itu tidak terjadi kebocoran saat menyalurkan cairan tersebut, dan bila terjadi kebocoran bisa diperbaiki atau diganti baru. Dan pemeriksaan berikutnya bisa dilakukan dengan menggoreskan kertas lakmus atau yang lainnya yang digunakan untuk pengecekan saluran cairan yang mudah terbakar seperti saluran bahan bakar kapal.
Dilakukan  juga pemeriksaan pada valve pipa jika sudah tidak berfungsi bisa diganti baru.