Saturday, 7 April 2012

RENCANA GARIS ( LINES PLAN )

-->
 RENCANA GARIS ( LINES PLAN )

I.1. Umum

Untuk mengetahui bentuk dan mengukur badan kapal dapat digunakan beberapa penggambaran/ pemroyeksian dari bentuk sebuah kapal terhadap bidang bidang tertentu. Bentuk kapal yang tiga dimensi tersebut dapat diproyeksikan dalam tiga bidang antara lain bidang datar horizontal, bidang datar vertikal memanjang dan bidang datar vertikal melintang yang masingmasing disebut dengan body plan, sheer plan dan half breadth plan. Gambar proyeksi dari bentuk tiga dimensi kapal kebentuk dua dimensi dalam berbagai bidang yang disertakan dalam satu tampilan gambar yang berupa garis dan titik disebut dengan rencana garis (lines plan).
Dalam pembuatan rencana garis terdapat beberapa metode yang digunakan, namun dalam pengerjaan tugas rencana garis ini metode yang digunakan adalah dengan menggunakan metode diagram NSP.

I.2. Curve of Sectional Area


Curve of Sectional Area (CSA) adalah kurva yang menunjukan luasan kapal pada tiap station. Luasan tiap station didapatkan dari gambar diagram NSP (gambar II.1)   dengan cara mencari nilai Vs/√Ldisp terlebih dahulu kemudian membuat garis horisontal dari nilai yang didapatkan, pada garis horizontal tesebut akan didapatkan perpotongan garis dengan tiap station kemudian dari titik potong ditarik garis vertikal ke atas dan ditemukan nilai prosentase tiap station. Untuk mengetahui luasan tiap station, prosentase tiap station dikalikan dengan luas midship (rumus II.4). Dari diagram NSP kita juga akan mendapatkan nilai  β,  δ,  φ, dan letak titik tekan memanjang (LCB). LCB ini didapatkan dengan cara menarik ke bawah garis perpotongan antara garis horizontal yang kita buat tadi dengan  garis lengkung b, sebagai prosentase dari panjang Ldisp dan diukur dari tengah panjang Ldisp

I.3. Body Plan


Body plan merupakan proyeksi bentuk potongan – potongan badan kapal secara melintang pada setiap station dilihat dari depan atau belakang. Potongan – potongan badan kapal ini dibentuk berdasarkan data data yang didapat berdasarkan data data grafik A/2T dan B/2. Prinsip penggambaran pada body plan yaitu bahwa terdapat dua garis lurus dan satu garis lengkung. Dua garis lurus pada body plan yaitu water line dan buttock line sedang garis lengkungnya yaitu penggambaran setiap station.
I.4. Half Breadth Plan

Half breadth merupakan gambar irisan dari badan kapal bila dilihat dari atas pada tiap garis air (water line). Gambar half breadth plan ini adalah suatu gambar proyeksi dua dimensi dari bidang kapal secara horizontal memanjang jika dilihat dari atas pada setiap garis air (water line). Gambar half breadth merupakan proyeksi dari body plan. Dari gambar ini nantinya bisa kita ketahui bentuk badan kapal yang kita rencanakan sudah stream line atau belum. Penggambaran dari gambar ini adalah hanya menggunakan setengah dari lebar kapal yang kita gambar karena pada dasarnya sisi kanan maupun sisi kiri kapal haruslah seimbang. Jadi kita tidak perlu menggambar yang setengahnya lagi.




I.5. Sheer Plan (Buttock Line)

Gambar sheer plan adalah gambar irisan dari bentuk badan kapal apabila dilihat dari samping untuk setiap buttock line. Jadi bisa disebut sheer plan adalah potongan – potongan  bentuk kapal secara vertikal memanjang. Gambar ini bertujuan untuk mengetahui bentuk kapal apabila dilihat dari samping kapal. Penggambaran dari gambar ini berdasarkan data yang diperoleh dari gambar half breadth plan.

I.6. Geladak Utama, Geladak Akil, Geladak Kimbul, dan Kubu – kubu

Sudah disebutkan di depan tadi bahwa gambar rencana garis bertujuan untuk mengetahui bentuk bodi dari kapal yang akan dibangun tidak terkecuali untuk bangunan atas dari kapal tersebut. Sehingga pada perencanaan awal atau pada rencana garis ini dapat dimungkinkan untuk mendesain rencana atau rancangan dari bangunan atas kapal yang akan kita buat. Untuk geladak utama, kita dapat membuatnya lurus atau mengikuti aturan menggunakan sheer standar, dimana perhitungan atau rumus dari sheer standar ini adalah sebagai berikut:




Gambar I.1 Geladak utama

Di depan midship :                  a= 5.6 (Lpp/3 + 10)     [mm]
                                                b= 22.2 (Lpp/3 + 10)   [mm]
                                                c= 50.0 (Lpp/3 + 10)   [mm]

Di belakang midship :             x= 2.8 (Lpp/3 + 10)     [mm]
                                                y= 11.1 (Lpp/3 + 10)   [mm]
                                                z= 25.0 (Lpp/3 + 10)  [mm]

Apabila di gambar secara melintang maka akan tampak suatu lengkungan pada geladak utama. Kenaikan lengkungan tersebut pada centerline dinamakan chamber. Ketinggian dari chamber ini adalah sebesar lebar kapal dibagi 50 atau B/50. Di sini kita bisa melihat ada dua posisi dari geladak utama tersebut, yaitu pada sisi dan pada titik puncak chamber. Pada sisi kita namakan dengan deck sideline dan yang pada titik puncak chamber kita namakan deck centerline. Kegunaan dari chamber ini adalah untuk mengalirkan air apabila air naik sampai ke geladak, sehingga tidak akan ada air yang tergenang di geladak.

Geladak akil dibuat pada haluan kapal (forecastle deck) dan geladak kimbul dibuat pada buritan kapal (poop deck). Batas untuk geladak akil adalah pada sekat tubrukan (collision bulkhead) sedangkan untuk geladak kimbul adalah pada sekat kamar mesin. Pada penggambarannya, digambarkan kelebihan pelat sisi pada geladak kimbul sebesar 100 – 200 [mm]. hal ini bertujuan untuk memudahkan proses pengelasan untuk menyambung pelat sisi dengan pelat geladak. Ketinggian kedua geladak ini tidak sama jika diukur dari geladak utama. Geladak akil lebih tinggi posisinya dibandingkan dengan geladak kimbul.

Kubu – kubu atau yang biasanya disebut bulwark adalah tambahan pelat sisi pada deck sideline setinggi 1 meter dengan tujuan agar air laut tidak dapat masuk ke geladak kapal dan juga untuk menjaga supaya anak buah kapal tidak tercebur ke laut apabila berdiri di pinggir kapal. Pada forecastle deck, bulwark tidak dibuat penuh karena dapat digantikan oleh rilling. Ketika diteruskan ke forecastle maupun poop deck, bulwark dibuat melengkung. Hal ini bertujuan supaya pelat tidak mengalami keretakan pada saat kapal mengalami rolling muapun pitching.


-->

Pembuatan Curve of Sectional Area

II.2.1. Membaca Diagram NSP


Sebelum membuat gambar CSA, terlebih dahulu  membaca diagram NSP (gambar II.1). setelah  mendapatkan nilai Vs/√Ldisp (rumus II.3) dapat ditarik garis mendatar pada diagram NSP. Dan menghitung nilai dari tiap perpotongan antara garis tersebut pada tiap station dengan menarik garis vertikal ke atas dan didapatkan nilai prosentase tiap station.  Kemudian dikalikan dengan luas midship (rumus II.4) dan didapatkan nilai luasan dalam [m²]. Untuk kapal yang saya rancang didapatkan nilai Vs/√Ldisp  = 0.67. Gambar diagram NSP dapat dilihat di bawah ini :

Gambar II.1 Diagram NSP
            Selain dapat menentukan luasan tiap station dapat juga menentukan letak LCB dengan cara menentukan titik perpotongan antara garis mendatar Vs/√Ldisp dengan letak titik tekan b, kemudian tarik garis vertikal ke bawah dan dapat diketahui nilai letak titik tekan dalam % Ldisp.

II.2.2. Membuat CSA Ldisp


Setelah mendapatkan nilai luasan tiap station kemudian menggambar CSA Ldisp dengan cara :

1.            Membuat garis horizontal dengan panjang Ldisp
2.            Membagi panjang Ldisp menjadi 20 bagian.
3.            Kemudian menarik garis vertikal ke atas sesuai skala perbandingan yang digunakan, dalam pembuatan CSA ini saya menggunakan skala 1 : 3
4.            Setelah itu menghubungkan tiap titik yang telah dibuat dari AP sampai FP
5.            Kemudian menentukan titik tengah Ldisp, yaitu dengan membagi Ldisp menjadi 2 bagian yang sama panjang (station 10).
6.            Setelah semua data yang diperlukan telah diketahui maka dilakukan perhitungan.

-->

II.2.3. Membuat CSA Lpp


Setelah kita mendapatkan panjang Lwl dengan cara menambah 1% pada ujung – ujung CSA Ldisp maka kita akan membuat CSA Lpp . Dari tengah CSA displasemen kita tarik garis 0.5 Lwl ke kiri dan ke kanan, ujung garis Lwl pada sebelah kanan kita tarik garis lagi sepanjang Lpp ke arah kiri, Lpp tersebut kita bagi menjadi 20 bagian, sisa dari Lwl adalah can part yang kita bagi menjadi 2 bagian, setelah itu perlebar CSA displasemen ke ujung garis Lwl sehingga ada luasan pada tiap station yang dapat dilihat pada gambar II.2.  Karena terjadi penambahan, maka CSA perpendicular perlu dilakukan koreksi terhadap volume.

Gambar II.2 Penambahan dari Ldisp ke Lpp


Seperti halnya perhitungan CSA Ldisp, pada CSA Lpp juga dilakukan perhitungan 



-->

II.3. PEMBUATAN A/2T dan B/2

II.3.1. A/2T


A/2T adalah perbandingan antara luasan tiap station dengan dua kali tinggi sarat kapal, untuk mencari nilainya kita bagi luasan tiap station dengan nilai 2T. Setelah  mendapatkan nilai tiap station, maka langkah selanjutnya adalah proyeksikan titik titik tersebut dan hubungkan dengan command spline pada autocad. Tabel perhitungan A/2T adalah sebagai berikut :
Tabel II.3 Tabel perhitungan A/2T

Station
A Skala 1 : 3 [m²]
A [m²]
A/2T [m]
-2
0
0
0
-1
2,3701
7,1103
0,392834254
0
4,946
14,838
0,819779006
1
14,8834
44,6502
2,466861878
2
28,6415
85,9245
4,747209945
3
40,9278
122,7834
6,78361326
4
50,9669
152,9007
8,447552486
5
56,7529
170,2587
9,406558011
6
60,0572
180,1716
9,954232044
7
61,7254
185,1762
10,23072928
8
62,2835
186,8505
10,32323204
9
62,41233
187,23699
10,34458508
10
62,41233
187,23699
10,34458508
11
62,41233
187,23699
10,34458508
12
62,4074
187,2222
10,34376796
13
62,4069
187,2207
10,34368508
14
61,6385
184,9155
10,21632597
15
58,9271
176,7813
9,766922652
16
53,4666
160,3998
8,861867403
17
41,3977
124,1931
6,861497238
18
25,8752
77,6256
4,288707182
19
10,1758
30,5274
1,686596685
20
0
0
0


II.3.2.  B/2

Grafik B/2 adalah suatu grafik dimana lebar kapal pada sarat air dibagi menjadi dua.

Langkah – langkah dalam pembuatan grafik B/2 adalah sebagai berikut :

1.            Pertama – tama menentukan dahulu sudut masuk yang dipakai. Sudut masuk merupakan fungsi φf (koefisien prismatic), memakai rumus II.8.

          φf        = φLpp + ( 1.4 - φLpp ) x e [%].......................(II.6)
diketahui :
e                      = 1.68 %
φLpp    = δdisp x ( Ldisp/Lpp )……………………….. (II.7)
= 0.7320 x ( 144.5034/141.67)
                        = 0,75786

Maka didapat :
φf        = φLpp + ( 1,4 - φLpp ) x e [%]……………….(II.8)
                        = 0.8007 + ( 1.4 - 0.75786 ) x 1.68 [%]
= 0,768647952

Didapatkan dari grafik “Angle of Entrance” gambar II.3 di bawah ini dengan cara menarik garis vertikal ke atas dari koefisien prismatic sampai berpotongan dengan grafik bentuk U kemudian tarik garis horizontal dan ditemukan nilai φf = 300



Gambar II.3 Grafik Angle of Entrance

2.            Setelah mendapat prosentase sudut masuk kemudian menggambar B/2. Pada daerah dengan ordinat sama dengan midship harus lebih panjang dari daerah parallel middle body. Setelah mendapat nillai B/2 dari kurva di atas kemudian dimasukan ke dalam tabel II.4 berikut :


Tabel II.4 Tabel perhitungan B/2

Station
B/2 [m]
y
s
y.s
-2
0
0
0.4
0
-1
2,3701
4,7402
1.6
7,58432
0
3,2605
6,521
1.4
9,1294
1
5,1827
10,3654
4
41,4616
2
7,0762
14,1524
2
28,3048
3
8,6222
17,2444
4
68,9776
4
9,6515
19,303
2
38,606
5
10,1075
20,215
4
80,86
6
10,3798
20,7596
2
41,5192
7
10,5
21
4
84
8
10,5
21
2
42
9
10,5
21
4
84
10
10,5
21
2
42
11
10,5
21
4
84
12
10,5
21
2
42
13
10,5
21
4
84
14
10,4095
20,819
2
41,638
15
10,1027
20,2054
4
80,8216
16
9,6889
19,3778
2
38,7556
17
8,5469
17,0938
4
68,3752
18
6,3489
12,6978
2
25,3956
19
3,2846
6,5692
4
26,2768
20
0
0
1
0





Σy.s
1059,70572








Setelah mendapatkan data seperti table II.4 di atas maka langkah selanjutnya adalah melakukan koreksi antara data hasil perhitungan dengan data yang didapat dari hasil penggambaran garis air yang datanya terdapat pada table.

Koreksi Awl
            α          = 0,248 + 0,778 δwl........................................(II.9)
            δWL        = δdisp x Ldisp/Lwl.........................................(II.10)
                        = ( 0.732 x 144.5034 )/147.34
                        = 0,717923077

            α          = 0,248 + 0,778 (0,717923077)
                        = 0.806544154
Simpson :




Awlsimp : 1/3.Σy.s.h [m²]
2254.846948






Rumus :





Awl : Lwl.B.α [m²]
2495.506328






Koreksi :





Awlsimp - Awl < ± 0,5% Awl [%]
-0.096437095

            Nilai koreksinya memenuhi yaitu kurang dari  ±0.5 [%]


II.4. Pembuatan Bentuk Linggi Haluan dan Buritan


II.4.1 Bentuk Linggi Haluan

Sebelum kita membuat gambar selanjutnya maka kita perlu merencanakan terlebih dahulu bentuk dari haluan dan buritan kapal yang akan kita buat. Untuk linggi haluan (gambar II.4) membentuk sudut 15o terhadap sumbu vertikal.





Gambar II.4 Linggi haluan



II.4.2 Bentuk Linggi Buritan

Dan untuk linggi buritan ada dua macam, pertama menggunakan sepatu linggi (sole – piece) yang kedua tidak memakai sepatu linggi. Berikut ini adalah buritan yang memakai sepatu linggi (gambar II.5). Adapun hitungannya dapat dilihat pada table II.5.







Gambar II.5 Linggi buritan tanpa sepatu linggi

Tabel II.5 Tabel perhitungan linggi buritan

D : (0.7).T [m]
4.9
t : T - D [m]
2.1
a : ± (0.35).T [m]
2.45
b : ± (0.35).T [m]
2.45
c : ± (0.10).T [m]
0.7
d : ± (0.04).T [m]
0.28
e : ± (0.12).T [m]
0.84
R : [m]
2.72

 

II.5. Pembuatan Body Plan


Sebelum membuat desain body plan, perlu dipahami terlebih dahulu bahwa body plan adalah proyeksi station station pada kapal dari pandangan depan. Untuk lebih jelasnya perrhatikan contoh gambar II.6 berikut :






Gambar II.6. Contoh gambar body plan

II.5.1. Membuat Body Plan

Body Plan merupakan proyeksi bentuk potongan – potongan badan kapal secara melintang pada setiap station dilihat dari depan atau belakang. Potongan – potongan badan kapal ini dibentuk berdasarkan data data  yang didapat berdasarkan data data grafik A/2T dan B/2 dengan cara sebagai berikut :

3.            Membuat kotak sepanjang lebar (B) kapal dan selebar tinggi sarat air (T) kapal.
4.            Membagi kotak menjadi dua bagian yang sama.
5.            Mengukur titik titik B/2 dan A/2T tiap station pada garis  panjang yang  diukur dari garis tengah. Untuk station 0 10 diukurkan pada kotak sebelah kiri dan pada kotak sebelah kanan untuk station 11 20. Untuk titik – titik A/2Tdibuat garis vertikal ke bawah setinggi T dan untuk titik – titik B/2 dibuat lengkungan – lengkungan body plan yang streamline.
6.            Jari jari bilga merupakan kelengkungan sebelah kanan dan kiri bawah kotak. Jari jari bilga ini juga merupakan kelengkungan body plan pada station – station yang memiliki nilai B/2 maksimum, jari – jari ini didapat dari rumus (II.11).

…………………………(II.11)
= 2.27 [m]

Adapun pada penggambaran body plan perlu diperhatikan tentang kesamaam luas pada bidang yang dibentuk, untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar II.7 dibawah ini :
                 








     









Gambar II.7 Penggambaran body plan

Luasan AOB harus sama dengan luasan COE


Untuk station 0, titik perpotongan antara kurva dengan centerline jaraknya dari baseline adalah 0,6T – 0.7T. Penggunaan rumus ini sesuai dengan diameter propeller yang akan dipasang nantinya.

   Bisa kita lihat dibawah ini cara pembuatan station 0,

Gambar II.8 Penggambaran body plan pada station 0

Setelah gambar body plan selesai dibuat, maka akan dibuat sentline untuk melihat keselarasan dari tiap – tiap station yang telah dibuat. Langkah awal yang dikerjakan yaitu membuat garis diagonal pada penampang body plan yang ditarik dari sisi atas perpotongan sarat air dengan centerline menuju dasar. Kemudian kita ukur jarak antara ujung sent line di perpotongan sarat air dengan centerline pada tiap – tiap station.

II.5.2. Membuat Sent Line
Membuat sent line dengan cara menarik garis diagonal pada kedua sisi body plan dimulai dari center line ke sisi bawah center line dan diukur jarak tiap kurva section dengan titk awal garis diagonal tadi.

Setelah data sent line didapat kemudian digambarkan dengan cara mengambar garis lurus sepanjang Lwl yang dibagi persectionnya dan selanjutnya titik – titik itu digambarkan pada tiap section dengan posisi dibawah garis Lwl. Penggambaran garis ini harus secara stream line.
Setelah diketahui dimensi (jarak) garis sent line antara center line dengan masing – masing station, langkah selanjutnya adalah mentransformasikan dimensi (jarak) tersebut kedalam proyeksi half breadth.
Gambar II.9 Sent line 
Ukuran – ukuran itulah yang nantinya  digambarkan pada half breadth plan.

II.6. Membuat Half Breadth Plan
Half breadth plan (gambar II.10) ini merupakan gambar irisan irisan kapal jika dilihat dari atas pada setiap garis air (water line).



Half
 





                                                                                                                               
Gambar II.10 Contoh half breadth plan

Sebelum menggambar half breadth plan, terlebih dahulu dilakukan penggambaran sent line. Data penggambaran sent line diperoleh melalui gambar body plan. Setelah sent line digambar maka kita dapat menggambar half breadth plan. Data yang diperlukan yaitu panjang dari center line ke setiap station di setiap water line pada body plan (gambarII.11).
Gambar II.11 Pembagian waterline pada body plan

            Prinsip pada penggambaran half breadth plan adalah terdapat dua garis lurus yaitu station dan buttock lines sedangkan terdapat juga satu garis lengkung yaitu water line.
Untuk membuatnya, pada kotak body plan dibuat garis horizontal yang disebut sebagai  garis water line (wl). Garis – garis ini memiliki ketinggian tertentu yang diukur mulai dari garis dasar pada body plan. Pada kapal ini terdapat 8 waterline yaitu : wl 0 [m]; wl 0.5 [m]; wl 1.0 [m]; wl 2.0 [m]; wl 3.0 [m]; wl 4.0 [m]; wl 5.0 [m]; wl 6.0 [m]; wl 7.0 [m]. Selanjutnya diukur jarak tiap kurva masing – masing station dengan center line untuk tiap water line.
Kemudian dari ukuran – ukuran tersebut dibuat grafik atau kurva yang stream line untuk masing – masing wl (gambar II.12). Apabila kurva yang dibuat tidak stream line maka dilakukan perubahan pada body plan. Kurva – kurva ini menggambarkan bentuk separuh kapal yang dilihat dari atas.Pada wl sarat grafik atau kurvanya akan sama dengan grafik B/2.
Gambar II.12 Half breadth plan

II.7. Pembuatan Sheer plan

Setelah half breadth plan telah dibuat dan bentuknya stream line maka selanjutnya dibuat sheer plan. Sheer plan merupakan garis – garis potongan badan kapal dengan bidang vertikal memanjang yang telah ditentukan jaraknya dari tengah kapal (center line) yang banyaknya tergantung pada setengah lebar kapal, dapat dibagi menjadi 3 atau 4.

Pada rancangan ini dibagi setengah lebar kapal menjadi 3 bagian yang sama. Baik pada body plan (gambar II.13) maupun pada half breadth plan (gambar II.14).


Gambar II.13 Pembagian buttock lines pada body plan

Gambar II.14 Pembagian buttock lines pada half breadth plan

            Lalu dari perpotongan garis garis lurus  itu dengan garis – garis air kita proyeksikan ke dalam sheer plan, dengan cara menarik garis lurus ke atas.
Garis garis vertikal ini bila dipotongkan dengan garis – garis air (water line) pada sheer plan sesuai dengan half breadth plan, maka akan terbentuk titik yang bila dihubungkan dengan garis akan terbentuk buttock lines. Sebagai contoh pada gambar II.15 bisa kita lihat untuk buttock lines yang diproyeksikan menuju sheer plan. Apabila setelah semuanya diproyeksikan dan bentuknya kurang stream line maka perlu dilakukan perbaikan pada body plan dan half breadth plan.
 
Gambar II.15 Sheer plan (buttock lines)


II.8. Pembuatan Geladak Utama, Geladak Akil dan Geladak Kimbul

2.8.1 Geladak Utama (Main Deck)
            Dalam pembuatan geladak utama yang perlu dilakukan adalah membuat sheer standar yang merupakan lengkungan geladak utama secara memanjang(gambar II.16). Besarnya nilai dari sheer standar berdasarkan rumus. Perlu diingat geladak utama dibuat dari H kapal. Untuk di depan midship : a menggunakan rumus II.11, b menggunakan rumus II.12, c menggunakan rumus II.13. Untuk di belakang midship : x menggunakan rumus II.14, y menggunakan rumus II.15 dan z menggunakan rumus II.16, seperti berikut ini :



REPRO
 










Gambar II.16 Geladak utama


Aturan penentuan sheer standar adalah sebagai berikut :
Di depan midship :
a          = 5.6 ( Lpp/3 + 10 )…………………………….(II.11)
= 5.6 ( 141.67/3 + 10 ) [mm]
= 320.4506 [mm]
b          = 22.2 (Lpp/3 + 10)…………………………….(II.12)
= 22.2 (141.67/3 + 10) [mm]
= 1270.358 [mm]
c          = 50 ( Lpp/3 + 10 )……………………………..(II.13)
= 50 (141.67/3 + 10 ) [mm]
= 2861.1666 [mm]
           
Di belakang midship :
x          = 2.8 ( Lpp/3 + 10 )…………………………….(II.14)
= 2.8 ( 141.67/3 + 10 ) [mm]
= 160.2253 [mm]
y          = 11.1 ( Lpp/3 + 10 )……………………………(II.15)
= 11.1 ( 141.67/3 + 10) [mm]
= 635.179 [mm]
z          = 25 ( Lpp/3 + 10 )……………………………..(II.16)
= 25 ( 141.67/3 + 10 ) [mm]
= 1430.5833 [mm]

Setelah pembuatan gambar sheer standar secara memanjang, maka selanjutnya adalah pembuatan bagian melintang kapal atau yang disebut chamber (gambar II.17). Ketinggian chamber diukur dari center line pada tinggi kapal sebesar seperlimapuluh B (B/50). Tujuan dari dibuatnya chamber adalah untuk menambah daya apung cadangan dan kekuatan geladak serta apabila ada air laut yang naik ke atas geladak kapal maka air akan mudah mengalir.
Gambar II.17 Chamber
II.8.2. Geladak Akil ( Forecastle Deck)

Geladak akil adalah super stucture yang berada pada bagian haluan kapal. Tinggi dari bangunan ini adalah 2.4 – 2.5 [m] sejajar di atas geladak utama. Kemudian panjang dari geladak akil ini yaitu hingga sekat tubrukan (collision bulkhead), dimana letak sekat ini terletak antara  0.05 – 0.08 [%] Lpp dari FP, dan terletak pada nomor gading, bukan nomor station.(gambar II.18).

Gambar II.18 Geladak akil dan kubu – kubu bulwark

Bulwark merupakan pagar yang terbuat dari plat yang terletak pada geladak tepi pada upper deck, forecastle deck dan poop deck yang berfungsi sebagai pembatas untuk sisi kapal pada geladak paling rendah. Direncanakan setinggi 1 [m] diukur pada geladak terendah.

II.8.3. Geladak Kimbul (Poop Deck)

Geladak kimbul (poop deck) adalah super structure yang berada pada bagian buritan kapal. Tinggi dari bangunan ini adalah 2.4 – 2.5 [m] sejajar dengan geladak utama. Kemudian panjang dari geladak kimbul yaitu hingga sekat kamar mesin, dimana sekat kamar mesin berada antara 17 – 20 [%] dari AP sementara diletakan pada station 4 dan terletak pada nomor gading, bukan nomor station.(gambar II.19)
Gambar II.19 Geladak kimbul (Poop Deck)

 

4 comments:

  1. thx postingannya kanda.. sangat bermanfaat (y)

    ReplyDelete
  2. Beberapa contoh gmbr ny kok gag muncul, jd bingung ?

    Bisa bntu di share gag ke email saya kekurangan materinya (ariefzero.ak@gmail.com), utk belajar.

    Tkz..

    ReplyDelete

"Yang Copy-Paste, izin yah.! Biar berkah "
Pembaca yang baik. Setelah baca dikomeng. Budayakan Komenk Spontan.